Selasa, 29 Mei 2018

Travel Side Story : Hal Tergila yang Pernah Gue Lakukan Saat Traveling!

Selama gue traveling, terlalu banyak hal gila yang gue nggak bisa lupain.
Tiga hal dibawah ini adalah best crazy moments that ever happen to me.

1.  Nebeng Mobil Sayur Kembali ke Hostel

Hal ini terjadi saat solo-travel ke sumatera utara tahun 2012. Saat itu gue menginap di hostel di Desa Tongging, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Alasan kenapa kesini? Karena kepo, mau lihat view Danau Toba dari sisi yang berbeda. Beberapa hari sebelumnya, saya ke Parapat. Tampilan Toba dari arah situ tampak kurang ‘wow’. Akhirnya saya tanya-tanya orang sekitar dan searching via internet dimana saya bisa seeing view Toba dari tempat lain. Banyak sumber yang mengarahkan saya kearah Kabanjahe dan menginap didesa Tongging, lagipula ini juga tak jauh dari tujuan gue berikutnya, Air Terjun Sipiso-Piso. Hari kedua saya di Tongging, saya berencana ke Sidikalang untuk melihat Taman Wisata Iman (TWI) yang katanya kece bener. Saya naik kendaraan omprengan biasa panggil orang lokal itu ‘otto’ yang biasa lewat dua kali sehari. Seperti biasa, travel kadang-kadang kita mendapat destinasi yang kurang ‘sreg’ seperti TWI ini, Mengelilingi tempat yang luasnya nyaris setengah Taman Mini dengan jalan kaki itu nguras tenaga luar biasa. Pas gue balik, ternyata balik ke main point ke Pasar Kabanjahe itu jauh banget. Saat itu gue baru sampai pas jam 7 malam, Sedangkan otto ke desa gue terakhir jam 5 sore. Anjrit! naik apaan gue? Sampai di Pasar Kabanjahe, saya kembali merogoh sisa uang ditas kecil. Ampun, sisa 20 ribu! HELPPPP…I am BROKEE!!!

Gue langsung cari ATM BRI terdekat dan ngecek saldo. Alamak! Sisa lima puluh ribu!!! u knowlah, BRI saldo limitnya 50 ribu, jadi nggak bisa diambil. Hiks! Langsung gue sigap nelpon nyokap minta uang. ARGHHHH!!! nggak diangkat-angkat. Alhasil gue bingung. Gimana nih selanjutnya pergi ke hostel dengan modal uang 20 ribu sampai bsk? Saya pun mulai tanya-tanya orang Saat lagi mikir-mikir dan putar otak gimana cara bertahan sampai besok, tibalah truk sayur nangkring didepan atm. Saya pun iseng bertanya kemana truk sayur ini pergi. Ternyata dia kearah yang sama, ke sebelah desa gue! Dan akhirnya gue bisa nebeng truk itu sampai ke penginapan. Nggak bayar sama sekali! Thank God!!!  

2.  Nyaris Ditinggal Pesawat di Malaysia

Tahun 2016, persis sebelum penugasan dokter internsip ke daerah, saya nyempetin jalan ke Thailand dan Malaysia. Saya sendiri tinggal di salah satu hostel Bukit Bintang di KL. Entah kenapa, ini tidak direncanakan ya, kalau saya nginep, entah di Thailand atau Malaysia, saya selalu dapat hostel sekitar daerah kafe dan bar, tapi tak apalah, lebih gampang akses minum-minumnya. Hehehe. Anyway, rencana saya pesawat menuju Jakarta dari Malaysia sekitar jam 1 siang. Dan saya baru bangun jam 9 pagi. And I think I still have some time left. Jam setengah 11 saya baru berangkat naik monorail dari Bukit Bintang menuju KL Sentral. Selanjutnya saya harus nyambung dari KL Sentral dengan naik KLIA express line ke KLIA2.

Dan gue nyampe jam 12.30. Bandaranya ternyata jauh gila, jauh dari tempat perhentian stasiun. Feeling gue udah nggak enak. Sampai di tempat boarding, gue langsung ketemu petugas Orang India dan nunjukin tiket. Pas liat tiket online di hp yang gue kasih, air mukanya langsung jadi ngernyit, “Sorry, the gate is closed. You cant get in there.” Kagetlah gue. Gue minta penjelasan dan pelonggaran waktu, tapi si Mbak-mbak India still say big no. Gue pun diarahin ke costumer service untuk penyelesaian lebih lanjut. Di CS pun gue ditolak. Langsung lemeslah badan ini. Tanda 5L keluar semua. Gue duduk ngeraung-raung bak anak kecil dengan pura-pura ngeluarin air mata buaya bilang kalau gue nggak punya duit lagi. Jadilah gue tontonan warga sekitar. Sambil liat-liat sekitar, akhirnya ada CS orang melayu hijabers, gue pikir mungkin gue bisa lobi lagi. “Sorry Miss, can I still get in that plane? I don’t have money anymore, please help me. Tolonglah saya kakak.” Gue pun ngerajuk-rajuk keluar jurus ngerayu satu rumpun. "Tunggu ya, cuba ditelfon sebentar.", jawab si mbak CS. Setelah cekcok alot yang lama di telpon sama petugas gate bandara tentang penumpang terlambat ini, akhirnya gue diijinin masuk. Gue pun diantar sama petugas laki-laki India dan dia bantuin bawa oleh-oleh gue dari Thailand. Wanjrit, Pintu menuju gate pesawat jauhnya naujubilahminjalik!

 “Run Miss Run!”, mas-mas Indianya lari teriak didepan gue. Kampret elo pikir gue ngapain daritadi. Ini carrier eiger gue udah lebih beban 60 kilo harus gue bawa dipundak sambil lari2 cepat. Gue sama si India akhirnya nyampe pintu pesawat jam 13.15, that means gue yang men-delay pesawat, bukan sebaliknya! I feel honoured! Hahaha. Pas masuk pesawat, gue bisa ngerasain tatapan-tatapan nyinyir dari warga sekitar. Yeayyy Finally, I made it! Ternyata Allah masih sayang sama bekpeker kere macam gue.

3.  Adegan Buang Carrier dan Tragedi Kuku Cantengan

Akhirnya gue kesalah satu Gunung di Jabar, Pangrango. Kalau nggak salah, sekitar pertengahan 2017. Saat itu, gue naik dalam keadaan cuaca yang masih sering hujan. Dan waktu gue naik ini, ini pertama kalinya Pangrango dibuka lagi setelah lama 3 bulan tidak dibuka karena cuaca yang buruk. Pas perjalanan naik gunungnya sih aman. Tapi pas turunnya, IT’S TOTALLY DISASTER! Kita turun dari camp itu jam 6 malam teng, super-telat-parah. Senter gue juga sempet rusak gara-gara jatuh dan ada abang-abang sotoy yang salah masukin lampu dan baterai senter. Awalnya gue jalan didepan, lama-lama gue dibelakang karena cuaca yang hujan. Dan gue ditinggal panitia tour tripnya, WTF! Dan gue ditemenin dua-anak-sma-ganteng yang udah sering naik gunung. Dan kita semua berkacamata. Pas lewat pos air panas, semua matanya berembun. Senter powerbank gue tewas tenggelam di air panas. That means senter hp mereka jadi satu-satunya penolong orang-orang buta ini. Gue jatuh dan cowok-cowok ini juga jatuh. Ampun deh!

Setelah itu kita jalan dan jalan. Ini jalan kok nggak ada habisnya ya? Lama-lama kaki gue ngerasain sakit dibagian ujung jempol gue. Gue udah duga, ini et causa gue ganti kaos kaki gunung jadi kaos kaki biasa dan lupa motong kuku jempol kaki. Mana lagi medannya berbatu dan hujan lebat. Sial, gue akhirnya sering minta berhenti. Pikiran gue, fix nih kaki gue pasti luka dan berdarah didalam. Terus gue jalan, jalan dan jalan lagi. Ini lebih parah daripada momen pertama kali gue naik gunung di Sulawesi dulu. Sampailah gue pada titik nadir keputusasaan. Gue teriak-teriak parah dan ngambek sambil buang carrier gue berharap supaya menggelinding ke bawah sampai di camp (it’s so absurd). Si adek-adek ganteng bilang selalu sabar-sabar-sabar. Adanya gue bentak balik saking capeknya. (mulai kelihatan asli nyebelinnya mahluk ini)

Gue nyampe jam 1 malam, itu perjalanan gunung tercapek yang pernah saya alami. Besoknya kita udah mulai kerja dan si tour trip bahkan masih leyeh-leyeh sampai jam 3 pagi. Gue yang besok jaga klinik udah stress juga mikirin keburu atau nggak nih waktunya. Jam setengah 6 sore sampai di Kampung Rambutan dan jam setengah 8 baru sampai Bekasi. Dan akhirnya gue alihkan jaga itu ke orang lain. Tak mampu aku sungguh tak mampu! Sampai rumah, gue langsung ambil posisi tidur dikarpet, masih dengan celana gunung gue yang penuh tanah dan bau badan luar biasa.

Hari itu gue bedrest satu hari total. Tewas. Tired Superb!

Anyway, pas bangun, akhirnya gue punya tenaga buat merhatiin itu kuku-kuku jempol gue. Yang sebelah kanan udah mau lepas, yang kiri udah memar parah.

Fix cantengan stadium akhir!

Mama udah suruh untuk buka itu kuku, tapi gue masih coba pertahanin karena seminggu berikutnya harus trip ke Ambon dan pasti banyak kegiatan snorkeling. It must be so painful if gue berenang dengan kuku yang abis dicabut. Itu kayak lo mau makanan enak, tapi mulut lo penuh dengan sariawan. Ckckck!

Dan akupun tahu, nasib kuku ini makin sekarat..

Sebulan kemudian, kuku jempol kaki kanan gue akhirnya terlepas total pas kena ujung tempat tidur dikamar jaga RSU Enrekang. Gue teriak dan langsung lari kedepan IGD. Gue lepas kuku yang tersisa dan bersihin luka sendiri tanpa anestesi (tabah banget ya gue?) Sedangkan nasib kuku kiri gue itu lama-lama panjang dan terus dipotong. Kuku yang memar itu samar-samar menghilang dan bagian yang retaknya juga hilang karena pergantian kuku. Mereka pun sembuh sedia kala setelah lima bulan.

Okay, That's Story of My Life!
Pengalaman ini tidak membuat saya kapok untuk jalan-jalan, justru cerita-cerita ini membuat gue menyadari bahwa betapa berharga dan berwarnanya hidup. How lucky I am!

Hmmm, gue akan sangat bangga (dan senyum-senyum sendiri) saat menceritakan kisah gila ini ke anak dan cucu-cucu gue nantinya :)

Jumat, 25 Agustus 2017

Travel Side Story : Menguji Adrenalin di Gunung Parang

Akhirnya saya kesini. AKHIRNYA!

Setelah dua bulan pasca saya tanya-tanya sama pihak skywalker dan banyak kendala yaitu ‘lebih mengutamakan kejar setoran’, akhirnya saya impulsif ngikut trip ini. kenapa trip yang saya pakai tripnya @skywalker ? karena temen trip gue sebelumnya, Christine yang nyaranin, katanya rata-rata lintasan parang ini 150 meter, kalau mau lebih yahut lagi, mereka nyediain lintasan 300 meter. Dasar nggak tahu medan dan cuma muka pengen ngetrip, tanpa mikir, ikut deh saya paket ini ; Sky cave, one day trip, 900 mdpl, 300 meter lintasan dengan harga 450k .

Mepo trip kali ini ini dari Plaza Semanggi, sedangkan tempat tripnya di Purwakarta. Akhirnya saya mutusin untuk minta dijemput dari tol Bekasi Barat. Perjalanan kita melewati Tol Cikampek menuju ketempat trip Gunung Parang ini memakan waktu tiga jam. Obyek wisata Gunung Parang ini terletak di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Lumayan jauh dari Alun-alun kota Purwakarta, 25 km dari pusat kota. Saya sih rekomen Anda untuk dateng bareng trip tour aja, soalnya jalannya agak njelimet dan aksesnya susah kalo kita nggak bawa kendaraan pribadi sendiri.

Akhirnya sampailah kita di basecamp. Dikirain bakal banyak anak-anak yang ngetrip dari travel tour lain. Ternyata nggak, karena lintasan Gunung Parangnya tripnya skywalker, beda dengan lintasan trip lain, mereka punya basecamp sendiri dan lintasan sendiri. Jadi eksklusif euy! Setelah setengah jam, akhirnya kita siap-siap untuk naik.

Complete Squad-nya Parang

Sebelum naik, kita dilengkapi dengan alat seat harness, lanyard, dan safety helmet. Gue sendiri baru denger kata lanyard ini. jadi lanyard itu tali dan karbiner yang dikaitkan pada bagian depan seat harness. Ini menjadi pengait kita ke pijakan besi ataupun tali lintasan trek. Jadi kita akan menaiki tebing batu yang sudah ada pijakan tiang besinya (berasa kayak naik tangga sutet, tapi versi lebih aman :p). Tiang-tiang besi yang bakal dinaiki ini dijamin kuat karena sudah dipaku sampai kedalaman 5 cm dan dilem dengan chemical glue anchor sehingga bisa menahan berat sampai 2 ton. Setiap tiga meter lintasan, akan ada titik check point, jadi kita  memindahkan dua karbiner lanyard diatas titik check pointnya dan lanjut manjat. Setelah sedikit perkenalan mengenai medan dan doa, dimulailah petualangan panjat-memanjat kami. Peserta lintasan 150 meter jalan lebih duluan, sedangkan kita yang coba lintasan 300 meter jalan paling ke belakang (bukannya kebalik ya? Supaya kita nggak capek, karena lintasan kita lebih panjang :p)

Lintasan mencong kanan-kiri



50 meter..masih lumayan karena medannya masih lurus. 100 meter, mulai aneh-aneh medannya, mencong kiri dikit. Sampailah kami di lintasan 150 meter, kebanyakan peserta misah di lintasan ini untuk turun, sisa kita berima plus satu guidenya. Enak sih punya guide mas-mas yang suka moto, tapi kadang kurang peka. “Ya Mbak, buang badan…buang badan..” ededeh, maksud elo ke jurang? Haduh! haha

Pose Buang Badan! :p

Semakin keatas, semakin gahar lintasannya. Lintasannya mulai mencong kanan mencong kiri ekstrim. Dengan tiang besi berbentuk tapal kaki kuda, saya pun mulai kesulitan berpijak. Di beberapa titik kadang tidak ada pijakan tiang besi. Ini mengharuskan lutut kita untuk berpijak menahan beban badan ke batu dan mengandalkan lubang-lubang tebing sebagai landasan kaki. Lintasan mencong-mencong ini pun juga membuat gue harus memiringkan badan bak cacing tanah supaya tidak tergelincir. Sesekali saya beristirahat sebentar, duduk diatas tiang sambil melihat Waduk Jatiluhur yang perlahan mulai kelihatan luas dari semakin tingginya tebing yang saya daki. Setelah sekian lama, akhirnya kita sampai di hutan kecil diatas. SAMPAI! Done Lintasan 300 meter - 900 mdpl!

Leyeh-leyeh dululah kami sebentar, sejaman cukuplah. Dari atas kita bisa ngelihat pemandangan Gunung Lembu dan Waduk Jatiluhur. Kerenlah!



View dari atas Gunung Parang



Touchdown!

Inilah bagian yang menakutkan. Kembali turun ke lintasan 150 meter dengan jalur yang sama.

Oh My God, I think we will try different ways, but it seems not.. Oh.. gue harus turun kebawah sambil ngeliat kebawah. Ouch! Nggak kayak naik gunung, turun bukannya hepi, ini turun tebing makin scary. Sampai di lintasan 150 meter, kita nyebrang lintasan menuju gua untuk turun rappeling kebawah dari ketinggian 750mdpl. Dumba2 banget, karena dulu rappeling dikdas gue pernah ada kejadian jatuh, jadi little trauma kalau rappeling. Pas turun aja, gue tereak-tereak pecah nggak sadar, “BANG..PELAN..BANG PELAN!!!”

Sampailah gua nyentuh tanah. HORRAYY! Setelah itu kaki gue lemes dan gemeter lunglai, tapi lama-lama kaki gue kembali berfungsi semula.  Eh ternyata besok paginya gue terbangun seperti lumpuh layu polio, di sekitar lutut gue little memar. Uhlala, duduk solat pun ane tak mampu. HIKSSS

Begitulah cerita trip saya ke Parang kemarin. Exciting and Thrilling! But after that makes me super tired on the next day. But totally worthed kok

Oya, kemarin setelah dari Parang, saya nggak langsung pulang. Akhirnya gue memutuskan liat Air Mancur Sri Baduga Situ Beleud, yang konon katanya air mancur terindah se-Asia Tenggara. Kebetulan gue datang pas pertunjukan keduanya. Pertujukan pertama mulai sekitar jam 19.30, sedangkan pertunjukan kedua mulai pukul 20.30. Meski masuk kesini gratis, tapi lumayan pakai urat ngantrinya. Ada beberapa ibu-ibu yang ngotot dan adu mulut sama security cewek gara-gara pingin masuk secepatnya. Ckckck. Akhirnya saya dapat masuk dan dapat kursi pas ditengah view air mancurnya. Lumayanlah. Ini videonya.



Karena udah kemaleman, saya memutuskan untuk cari penginapan di dekat sana. Saya berjalan menuju kea rah stasiun Purwakarta, yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Situ Beleud. Setiap malam minggu, di sepanjang jalan terdapat pasar kuliner khas-khas Jawa Barat yang berada diemperan kanan-kiri jalan. Saya pun khilaf makan; Lumpia Basah, Sosis Bakar, Seblak, Nasi Ayam Bakar, Jus Jambu pun saya sikat dalam hitungan menit--jam. Hahaha! Kalap pasca ‘berperang’ di Parang nih! Setelah kuliner, saya dapet Hotel Sederhana yang masuk ke lorong-lorong, lumayanlah Cuma 100k untuk 12 jam, kan cuma buat tidur doang. Besok paginya saya pulang. Dan lanjut lagi kerja…

Argh, liburan setitik ipil-ipil ini telah berakhir. Back to reality guys.
See you my other side, 
Salam Dokter Ngacir!

Jumat, 16 Juni 2017

CORETAN UPRIT! (CuPrit!) : Enrekang part #2

Inilah tempat wisata lain yang telah saya kunjungi selama di Enrekang, Sulawesi Selatan. Tulisan jalan-jalan tentang Enrekang yang pertama, ada disini 

Air Terjun Lewajja 
Saya kesini dua kali. 
Dan Alhamdulillah pas banget air terjunnya lagi deras-derasnya. Wisata Lewajja terletak lima kilo dari kota Enrekang. Akses jalan bagus, bisa lewat jalan maupun mobil. Awalnya Lewajja hanyalah wisata air terjun saja, tapi lama-lama dibagian hilir dibuatkan kolam air renang buatan, sehingga masyarakat juga bisa menikmati air di Lewajja tanpa harus berjalan jauh. Untuk menuju air terjun, kita perlu berjalan kurang lebih lima ratus meter dengan medan yang sedikit naik turun, cukuplah bikin kita keringatan pemanasan sebelum nyebur-nyebur cantik. 

Begitu lihat air terjun, spontan saja saya bergerak lebih dekat. Cepat-cepat nyebur dan ngerasain dinginnya air. Brrrr! Segar! Perlahan-lahan teman-teman pun akhirnya nyebur. (padahal mereka nggak ada niat nyebur) Ternyata dibandingkan sebelumnya, dibagian dasar dari tempat turunnya air terjun, sudah ditimbun tanah tambahan supaya tidak dalam dan kita masih bisa menyentuh tanah. 

Agenda selanjutnya, jreng jrengg.. Lompat dari batu! Hahaha. Seruu!! Akhirnya dari yang berani lompat sampai yang takut lompat semuanya turun. Btw, berikut ada foto pas saya pertama kesini. Saya dan kakak berhasil turun dari samping batu supaya dapat bisa dapet foto keren pas dibatunya. Pas kedua kali saya kesini, saya nggak bisa turun karena licin banget. 

Butuh perjuangan untuk sampai bisa baring disitu

SEGAR!
Oiya, untuk kesini, tiket masuknya cuma 7 ribu perak. Pemandangan dan cost kesini sangat keren, murah, dan terjangkau. Jadi sangat disayangkan kalau ke Enrekang kalau nggak kesini. 

SWISS  (Sekitar Wilayah Sungai Saddang) 
Ini bukan Negara. SWISS itu nama kependekan dari Sekitar Wilayah Sungai Saddang. Ini sebenarnya daerah jalan di pinggir Sungai Saddang. Di pinggir jalan, banyak didapatkan warung kopi yang dilengkapi TV yang bisa karaokean. Tempat ini bak Inul Vizta versi murah dan versi toa kemana-mana. Ditemani es kelapa gula merah, pisang goring coklat, sambil nyanyi. Lagu requestan kita sudah membuat hati saya senang. Lumayanlah, melepas kebosanan rutinitas kami selama di rumah sakit. Oiya, warkop-warkop tutup jam 12 malam, jadinya request lagu nggak bisa sampai subuh. Hahaha :p

Bersama crew UGD di warkop andalan!

Kebun Raya Massenrempulu Enrekang 
Ini tempat wisata yang terkahir saya kunjungi. Saya dan kakak boncengan naik motor menuju kebun raya. Tidak sampai setengah jam perjalanan kami dari kota untuk sampai kesini. Kesan pertama lihat tempat ini? Luas. Kesan kedua? Kering. Kesan ketiga? Tidak terawat. Saya bingung untuk mendeskripsikannya. Besarnya lahan kebun ini, tapi hanya sedikit spot keren yang bisa saya lihat. Tiket masuk sini hanya lima ribu rupiah. Kalau Anda mau piknik, ini bisa menjadi tempat yang bagus untuk gelar tikar, makan makanan kotak, dan menikmati pemandangan. 

Danau didalam kebun
Salah satu spot keren buat foto di kebun raya :)

#Need to mention: Tebing Mandu 
Sebenarnya ini bukan tempat wisata resmi sih. Kalau dari Pasar Cakke turun kebawah menuju Pasaran, kita bisa melihat pemandangan yang seperti ini. Sesekali, untuk menemani sore yang membosankan, saya kadang pinjam motor kakak perawat untuk ke tempat ini. menghabiskan waktu melihat senja yang perlahan menghilang. 

Setelah jembatan, kita bisa singgah dibatu-batu dibawah tebing Mandu. Sebenarnya tebing ini bisa dipanjat sampai puncak, tetapi tidak ada yang mau menemani saya. konon tahun lalu, kakak-kakak perawat dan dua teman saya yang sebelumnya tugas disini mencoba menaiki tebing ini. salahnya mereka naik keatas saat sudah jam lima sore dan jalur yang ditempuh sangatlah ekstrim, sampai ada adegan manjat akar-akar pohon untuk melewati jurang batu. Setelah itu, semua kakak kapok untuk naik lagi keatas. Saya juga nggak berani takabur kalau nggak ada Tour Guidenya.

Si kakak dan anak-anaknya akhirnya nganter saya sampai dibawah tebing. Kalau dilihat dari samping, terdapat semacam lorong yang berada disepanjang tebing. Katanya ini adalah bekas kuburan penjajah dulu. 

Di bawah Tebing Mandu. Gak boleh nyelup kaki, katanya ada buaya

Bersama Tour Guide saya didepan tebing mandu dan kebun bawang :)

Overall, Enrekang punya banyak banget tempat wisata. Sayangya dinas pariwisata kurang promosi jadi tempat wisata disini masih kurang peminat. Untuk Traveler yang mau berkunjung ke Toraja, alangkah baiknya sebelum/sesudah pulang bisa mampir ke Enrekang. Kalau ke Toraja, Anda pasti melewati Enrekang, jarak tempuh diantaranya hanya berjarak 3 jam saja. 

Nah, demikianlah petualangan saya selama di sini sekaligus berakhirlah Tugas Internsip saya di Enrekang selama setahun terakhir. Orangnya hangat dan seru, daerahnya indah dan menawan. 
Jadi, kalau ada waktu dan umur, saya akan kesini lagi.