Jumat, 25 Agustus 2017

Travel Side Story : Menguji Adrenalin di Gunung Parang

Akhirnya saya kesini. AKHIRNYA!

Setelah dua bulan pasca saya tanya-tanya sama pihak skywalker dan banyak kendala yaitu ‘lebih mengutamakan kejar setoran’, akhirnya saya impulsif ngikut trip ini. kenapa trip yang saya pakai tripnya @skywalker ? karena temen trip gue sebelumnya, Christine yang nyaranin, katanya rata-rata lintasan parang ini 150 meter, kalau mau lebih yahut lagi, mereka nyediain lintasan 300 meter. Dasar nggak tahu medan dan cuma muka pengen ngetrip, tanpa mikir, ikut deh saya paket ini ; Sky cave, one day trip, 900 mdpl, 300 meter lintasan dengan harga 450k .

Mepo trip kali ini ini dari Plaza Semanggi, sedangkan tempat tripnya di Purwakarta. Akhirnya saya mutusin untuk minta dijemput dari tol Bekasi Barat. Perjalanan kita melewati Tol Cikampek menuju ketempat trip Gunung Parang ini memakan waktu tiga jam. Obyek wisata Gunung Parang ini terletak di Kampung Cihuni, Desa Sukamulya, Kecamatan Tegalwaru, Purwakarta. Lumayan jauh dari Alun-alun kota Purwakarta, 25 km dari pusat kota. Saya sih rekomen Anda untuk dateng bareng trip tour aja, soalnya jalannya agak njelimet dan aksesnya susah kalo kita nggak bawa kendaraan pribadi sendiri.

Akhirnya sampailah kita di basecamp. Dikirain bakal banyak anak-anak yang ngetrip dari travel tour lain. Ternyata nggak, karena lintasan Gunung Parangnya tripnya skywalker, beda dengan lintasan trip lain, mereka punya basecamp sendiri dan lintasan sendiri. Jadi eksklusif euy! Setelah setengah jam, akhirnya kita siap-siap untuk naik.

Complete Squad-nya Parang

Sebelum naik, kita dilengkapi dengan alat seat harness, lanyard, dan safety helmet. Gue sendiri baru denger kata lanyard ini. jadi lanyard itu tali dan karbiner yang dikaitkan pada bagian depan seat harness. Ini menjadi pengait kita ke pijakan besi ataupun tali lintasan trek. Jadi kita akan menaiki tebing batu yang sudah ada pijakan tiang besinya (berasa kayak naik tangga sutet, tapi versi lebih aman :p). Tiang-tiang besi yang bakal dinaiki ini dijamin kuat karena sudah dipaku sampai kedalaman 5 cm dan dilem dengan chemical glue anchor sehingga bisa menahan berat sampai 2 ton. Setiap tiga meter lintasan, akan ada titik check point, jadi kita  memindahkan dua karbiner lanyard diatas titik check pointnya dan lanjut manjat. Setelah sedikit perkenalan mengenai medan dan doa, dimulailah petualangan panjat-memanjat kami. Peserta lintasan 150 meter jalan lebih duluan, sedangkan kita yang coba lintasan 300 meter jalan paling ke belakang (bukannya kebalik ya? Supaya kita nggak capek, karena lintasan kita lebih panjang :p)

Lintasan mencong kanan-kiri



50 meter..masih lumayan karena medannya masih lurus. 100 meter, mulai aneh-aneh medannya, mencong kiri dikit. Sampailah kami di lintasan 150 meter, kebanyakan peserta misah di lintasan ini untuk turun, sisa kita berima plus satu guidenya. Enak sih punya guide mas-mas yang suka moto, tapi kadang kurang peka. “Ya Mbak, buang badan…buang badan..” ededeh, maksud elo ke jurang? Haduh! haha

Pose Buang Badan! :p

Semakin keatas, semakin gahar lintasannya. Lintasannya mulai mencong kanan mencong kiri ekstrim. Dengan tiang besi berbentuk tapal kaki kuda, saya pun mulai kesulitan berpijak. Di beberapa titik kadang tidak ada pijakan tiang besi. Ini mengharuskan lutut kita untuk berpijak menahan beban badan ke batu dan mengandalkan lubang-lubang tebing sebagai landasan kaki. Lintasan mencong-mencong ini pun juga membuat gue harus memiringkan badan bak cacing tanah supaya tidak tergelincir. Sesekali saya beristirahat sebentar, duduk diatas tiang sambil melihat Waduk Jatiluhur yang perlahan mulai kelihatan luas dari semakin tingginya tebing yang saya daki. Setelah sekian lama, akhirnya kita sampai di hutan kecil diatas. SAMPAI! Done Lintasan 300 meter - 900 mdpl!

Leyeh-leyeh dululah kami sebentar, sejaman cukuplah. Dari atas kita bisa ngelihat pemandangan Gunung Lembu dan Waduk Jatiluhur. Kerenlah!



View dari atas Gunung Parang



Touchdown!

Inilah bagian yang menakutkan. Kembali turun ke lintasan 150 meter dengan jalur yang sama.

Oh My God, I think we will try different ways, but it seems not.. Oh.. gue harus turun kebawah sambil ngeliat kebawah. Ouch! Nggak kayak naik gunung, turun bukannya hepi, ini turun tebing makin scary. Sampai di lintasan 150 meter, kita nyebrang lintasan menuju gua untuk turun rappeling kebawah dari ketinggian 750mdpl. Dumba2 banget, karena dulu rappeling dikdas gue pernah ada kejadian jatuh, jadi little trauma kalau rappeling. Pas turun aja, gue tereak-tereak pecah nggak sadar, “BANG..PELAN..BANG PELAN!!!”

Sampailah gua nyentuh tanah. HORRAYY! Setelah itu kaki gue lemes dan gemeter lunglai, tapi lama-lama kaki gue kembali berfungsi semula.  Eh ternyata besok paginya gue terbangun seperti lumpuh layu polio, di sekitar lutut gue little memar. Uhlala, duduk solat pun ane tak mampu. HIKSSS

Begitulah cerita trip saya ke Parang kemarin. Exciting and Thrilling! But after that makes me super tired on the next day. But totally worthed kok

Oya, kemarin setelah dari Parang, saya nggak langsung pulang. Akhirnya gue memutuskan liat Air Mancur Sri Baduga Situ Beleud, yang konon katanya air mancur terindah se-Asia Tenggara. Kebetulan gue datang pas pertunjukan keduanya. Pertujukan pertama mulai sekitar jam 19.30, sedangkan pertunjukan kedua mulai pukul 20.30. Meski masuk kesini gratis, tapi lumayan pakai urat ngantrinya. Ada beberapa ibu-ibu yang ngotot dan adu mulut sama security cewek gara-gara pingin masuk secepatnya. Ckckck. Akhirnya saya dapat masuk dan dapat kursi pas ditengah view air mancurnya. Lumayanlah. Ini videonya.

video


Karena udah kemaleman, saya memutuskan untuk cari penginapan di dekat sana. Saya berjalan menuju kea rah stasiun Purwakarta, yang berjarak kurang lebih 500 meter dari Situ Beleud. Setiap malam minggu, di sepanjang jalan terdapat pasar kuliner khas-khas Jawa Barat yang berada diemperan kanan-kiri jalan. Saya pun khilaf makan; Lumpia Basah, Sosis Bakar, Seblak, Nasi Ayam Bakar, Jus Jambu pun saya sikat dalam hitungan menit--jam. Hahaha! Kalap pasca ‘berperang’ di Parang nih! Setelah kuliner, saya dapet Hotel Sederhana yang masuk ke lorong-lorong, lumayanlah Cuma 100k untuk 12 jam, kan cuma buat tidur doang. Besok paginya saya pulang. Dan lanjut lagi kerja…

Argh, liburan setitik ipil-ipil ini telah berakhir. Back to reality guys.
See you my other side, 
Salam Dokter Ngacir!

Jumat, 16 Juni 2017

CORETAN UPRIT! (CuPrit!) : Enrekang part #2

Inilah tempat wisata lain yang telah saya kunjungi selama di Enrekang, Sulawesi Selatan. Tulisan jalan-jalan tentang Enrekang yang pertama, ada disini 

Air Terjun Lewajja 
Saya kesini dua kali. 
Dan Alhamdulillah pas banget air terjunnya lagi deras-derasnya. Wisata Lewajja terletak lima kilo dari kota Enrekang. Akses jalan bagus, bisa lewat jalan maupun mobil. Awalnya Lewajja hanyalah wisata air terjun saja, tapi lama-lama dibagian hilir dibuatkan kolam air renang buatan, sehingga masyarakat juga bisa menikmati air di Lewajja tanpa harus berjalan jauh. Untuk menuju air terjun, kita perlu berjalan kurang lebih lima ratus meter dengan medan yang sedikit naik turun, cukuplah bikin kita keringatan pemanasan sebelum nyebur-nyebur cantik. 

Begitu lihat air terjun, spontan saja saya bergerak lebih dekat. Cepat-cepat nyebur dan ngerasain dinginnya air. Brrrr! Segar! Perlahan-lahan teman-teman pun akhirnya nyebur. (padahal mereka nggak ada niat nyebur) Ternyata dibandingkan sebelumnya, dibagian dasar dari tempat turunnya air terjun, sudah ditimbun tanah tambahan supaya tidak dalam dan kita masih bisa menyentuh tanah. 

Agenda selanjutnya, jreng jrengg.. Lompat dari batu! Hahaha. Seruu!! Akhirnya dari yang berani lompat sampai yang takut lompat semuanya turun. Btw, berikut ada foto pas saya pertama kesini. Saya dan kakak berhasil turun dari samping batu supaya dapat bisa dapet foto keren pas dibatunya. Pas kedua kali saya kesini, saya nggak bisa turun karena licin banget. 

Butuh perjuangan untuk sampai bisa baring disitu

SEGAR!
Oiya, untuk kesini, tiket masuknya cuma 7 ribu perak. Pemandangan dan cost kesini sangat keren, murah, dan terjangkau. Jadi sangat disayangkan kalau ke Enrekang kalau nggak kesini. 

SWISS  (Sekitar Wilayah Sungai Saddang) 
Ini bukan Negara. SWISS itu nama kependekan dari Sekitar Wilayah Sungai Saddang. Ini sebenarnya daerah jalan di pinggir Sungai Saddang. Di pinggir jalan, banyak didapatkan warung kopi yang dilengkapi TV yang bisa karaokean. Tempat ini bak Inul Vizta versi murah dan versi toa kemana-mana. Ditemani es kelapa gula merah, pisang goring coklat, sambil nyanyi. Lagu requestan kita sudah membuat hati saya senang. Lumayanlah, melepas kebosanan rutinitas kami selama di rumah sakit. Oiya, warkop-warkop tutup jam 12 malam, jadinya request lagu nggak bisa sampai subuh. Hahaha :p

Bersama crew UGD di warkop andalan!

Kebun Raya Massenrempulu Enrekang 
Ini tempat wisata yang terkahir saya kunjungi. Saya dan kakak boncengan naik motor menuju kebun raya. Tidak sampai setengah jam perjalanan kami dari kota untuk sampai kesini. Kesan pertama lihat tempat ini? Luas. Kesan kedua? Kering. Kesan ketiga? Tidak terawat. Saya bingung untuk mendeskripsikannya. Besarnya lahan kebun ini, tapi hanya sedikit spot keren yang bisa saya lihat. Tiket masuk sini hanya lima ribu rupiah. Kalau Anda mau piknik, ini bisa menjadi tempat yang bagus untuk gelar tikar, makan makanan kotak, dan menikmati pemandangan. 

Danau didalam kebun
Salah satu spot keren buat foto di kebun raya :)

#Need to mention: Tebing Mandu 
Sebenarnya ini bukan tempat wisata resmi sih. Kalau dari Pasar Cakke turun kebawah menuju Pasaran, kita bisa melihat pemandangan yang seperti ini. Sesekali, untuk menemani sore yang membosankan, saya kadang pinjam motor kakak perawat untuk ke tempat ini. menghabiskan waktu melihat senja yang perlahan menghilang. 

Setelah jembatan, kita bisa singgah dibatu-batu dibawah tebing Mandu. Sebenarnya tebing ini bisa dipanjat sampai puncak, tetapi tidak ada yang mau menemani saya. konon tahun lalu, kakak-kakak perawat dan dua teman saya yang sebelumnya tugas disini mencoba menaiki tebing ini. salahnya mereka naik keatas saat sudah jam lima sore dan jalur yang ditempuh sangatlah ekstrim, sampai ada adegan manjat akar-akar pohon untuk melewati jurang batu. Setelah itu, semua kakak kapok untuk naik lagi keatas. Saya juga nggak berani takabur kalau nggak ada Tour Guidenya.

Si kakak dan anak-anaknya akhirnya nganter saya sampai dibawah tebing. Kalau dilihat dari samping, terdapat semacam lorong yang berada disepanjang tebing. Katanya ini adalah bekas kuburan penjajah dulu. 

Di bawah Tebing Mandu. Gak boleh nyelup kaki, katanya ada buaya

Bersama Tour Guide saya didepan tebing mandu dan kebun bawang :)

Overall, Enrekang punya banyak banget tempat wisata. Sayangya dinas pariwisata kurang promosi jadi tempat wisata disini masih kurang peminat. Untuk Traveler yang mau berkunjung ke Toraja, alangkah baiknya sebelum/sesudah pulang bisa mampir ke Enrekang. Kalau ke Toraja, Anda pasti melewati Enrekang, jarak tempuh diantaranya hanya berjarak 3 jam saja. 

Nah, demikianlah petualangan saya selama di sini sekaligus berakhirlah Tugas Internsip saya di Enrekang selama setahun terakhir. Orangnya hangat dan seru, daerahnya indah dan menawan. 
Jadi, kalau ada waktu dan umur, saya akan kesini lagi.

Sabtu, 10 Juni 2017

Travel Side Story : Mengunjungi Ora Dalam Satu Hari!

Benar-benar luar biasa.

Saya pergi ke tempat ini cuma satu hari dan ternyata waktunya cukup! Tengah hari saya mulai berangkat dari Tulehu bersama keluarga menuju ke pelabuhan disebelah Liang, Hunimua, untuk menyebrang ke pelabuhan Waipirit. Rute kami memang tidak seperti orang lain. Biasanya traveler yang mau ke Ora, pergi lewat Masohi dan melanjutkan perjalanan melewati gunung SS (yang tinggi dan jalannya berkelok-kelok) selama 7 jam menuju Sawai yang letaknya dibelakang daripada Ora. Rute kami agak sedikit berbeda. Setelah membandingkan rute yang akan ditempuh dari data internet dan sepengetahuannya om-om yang telah pergi kesana, akhirnya kami memilih untuk memotong jalan menyebrang kearah Desa Waipirit, lanjut menyusuri Kairatu, Liang Awaiya, Saulau, Waipia dan sampai ke Saleman. Setidaknya rute jauh lebih hemat jam dan tidak berbahaya. Akan tetapi, kenapa banyak traveler lebih memilih rute ke arah Masohi lalu melanjutkan ke Sawai lewat Gunung SS (katanya om, saking tingginya gunung SS ini, kalau kita jatuh ke bawah, kita nggak sampai-sampai dasar. Ngeri!) karena akses mobil angkutan jauh lebih available daripada lewat rute yang saya lakukan. 

Oiya, tepat setengah tujuh malam, kami sampai di Saleman. Desa Saleman terletak tidak jauh dari Ora, bahkan dari penginapan saya, penginapan pasar putih, kita masih bisa melihat kumpulan rumah dan pendar cahaya yang berjajaran. Itulah Ora. Besok pagi kami akan menjelajahinya. 

Penginapan Pasir Putih
Teras Penginapan Pasir Putih
Ohlala, semua orang bangun pagi. Kecuali saya. 
Entah kenapa keahlian saya bangun pagi itu hilang kalau lagi tidak kerja mode on. Akibatnya? Shalat subuh jadi sering lewat dan kalau holiday time, jadi susah dibangunin, sama kayak ini. jam tujuh saya sudah dibangunin paksa, badan saya sakit semua karena pascabegadang dan akumulasi capek habis naik Gunung Pangrango kemarin. Tapi rencana ini harus tetap berjalan. 
Kami akan mengunjungi ORA RESORT, TEBING BATU, GOA LAUT, DAN AIR BELANDA. 

Yeay! 

Sebelum berangkat, kami nyaris naik long boat yang tak ada topinya (aka atapnya). Untungnya Om dan Ibu saya bersikeras untuk tetap mencarikan boat yang ada atapnya, kalau tidak, kulit kami bisa koreng maksimal. Kira-kira pukul sembilan pagi, rute kami dimulai dari Ora. 
Menikmati angin pagi semilir dikapal kecil ditengah teluk saleman yang masih tenang, kami mulai mendekati tujuan. Banyak yang tak tahu, Ora merupakan bagian dari Teluk Saleman, sebuah daerah teluk yang menjorok ke tepian tebing batu dengan spot air yang jernih. Jadi Ora itu merupakan nama dari sebuah resort penginapan, bukan ada daerah yang namanya Ora 

Walau masih pagi, ternyata sudah banyak ibu-ibu yang berfoto di anjungan pintu masuk Ora. Melihat kumpulan ibu-ibu cetar itu, kami pun tak mau kalah, Begitu datang langsung mengambil spot foto didepan cottage-cottage diatas laut. Ibu saya pose model mode on, disusul adik dan si om. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. 

Dan inilah Ora, yang katanya Maldivesnya Indonesia. Pasir putihnya, airnya yang jernih dangkal dan bawah lautnya yang bening dan begitu..begitu.. Hmm..How to describe this? Hidup? Keren? Indah? This is too simple to describe this creature just in a word. Im just saying Subhanallah again and again.. Lost of words!

This is ORA!
The Ora Eco Resort
Me and My Sister!
Biar jembatannya juga eksotis..








Duyung-duyung gagal! :p
Cottage disini terdiri dari dua; cottage diatas laut dan yang didarat. Untuk cottage didarat, harganya 750k per malam. Sedangkan cottage diatas laut seharga 1500k per malam. Dan harga itu belum termasuk makan, transportasi, dan sewa alat selam disitu ya. Hanya harga penginapan. Sepanjang saya mengelilingi tempat ini, banyak juga bule yang tinggal disini. Ada pula pasangan yang sedang menghabiskan honeymoon. Uhlala panas hati ambo liat ‘just married’ couple yang cipak-cipok mesra.. Ada lagi yang menarik yang saya lihat, segerombol ibu-ibu berbaju putih yang asyik foto-foto tadi, ternyata mereka rekanan kerja yang lari dari jenuhnya udara ibukota. Kompak banget! 

Setelah puas nyebur-nyebur sedikit di Ora, kami pun ke destinasi berikutnya, Tebing Batu. Tebing batu yang dimaksud merupakan bagian dari tebing gunung dibelakang Ora, bahkan spotnya tidak terlalu jauh dari penginapan Ora. Kami pun singgah dan menikmati bawah laut yang dangkal. Saya dan adik kebetulan sama-sama minus tinggi, kami pun sudah siap dengan alat bantu penglihatan. Kaca mata snorkeling minus dan kaca mata renang minus itu WAJIB, kalau tidak, tamatlah riwayat kami. Mati gaya et causa BUTA! 

Yang paling Alhamdulillah, selama kita snorkeling di laut, tidak ada bulu babi sama sekali, jadi bertelanjang kaki ditengah laut dan sedikit nginjak karang pun tidak masalah. Saya dan Giska saling nunjuk-nunjuk tumbuhan dan hewan laut yang caught our eye. Benar-benar warna gado-gado ijo-biru-toska-turqouise itu ada. Ini baru jernih luar biasa. Nggak kayak waktu saya snorkeling di deket Krakatau atau Menjangan, little-little butek ora bisa liat apa-apa. Ini mah ASELI. Begitu nemuin nemo atau karang laut yang cantik-cantik, kita kayak anak girang yang nemuin harta karun. Sampai nggak sadar, kami bahkan udah ditengah laut tanpa pakai pelampung sama sekali. Saya pun sempat berenang ke bagian belahan tebing dan masuk kedalamnya. Gelap dan banyak kelelawar, setelah mentok, saya balik keluar. Setelah itu, saya lanjut lagi snorkeling sampai modar kabeh! 

Kesenengan tingkat dewa karena lama gak liat air

With Family :)

Sekilas mirip-mirip Philey Lagoon di Krabi, Thailand
Air Belanda merupakan tujuan terakhir kami. Tidak jauh dari pinggir pantai, yang disebut Air Belanda ini terlihat lebih mirip sungai, kali yang jernih. Saya kaget, ketika mulai mencelupkan kaki saya menginjakan gemercik air. Ampun! Dinginnya kayak kolam air gunung. Dan terasa fresh! Ini mungkin karena kami dari naik kapal berpanas-panasan. This is really refreshing. 

Ibu dan Om saya yang kompak banget suka difoto :p
Dan inilah akhir perjalanan saya di Ora. 
Cuma butuh satu hari kesini dan lima jam untuk mengelilingi Ora dan daerah wisata sekitarnya. Sebenarnya cukup disayangkan, karena kita nyewa long boat terhitung 24 jam bayar flat 700 ribu, jadi walau pakai 5 jam, harga ya tetap segitu. Minta korting, tetap nggak dikasih..yasudahlah. Smua telah dikunjungi dan saya pun cepat-cepat balik ke penginapan untuk siap-siap melanjutkan perjalanan kembali ke Tulehu sebelum tengah malam. Oiya, ada destinasi lain yang famous disana, Pulau Tujuh. Akan tetapi, untuk menuju kesini, butuh 2 jam perjalanan dan harga sewa longboat kesana sekitar 2,5 juta. It costs too much and wasting time, so, akhirnya nggak pergi kesana deh... 

Tak lupa, sebelum pulang, kami nyicipin durian Seram. Kebetulan pas datang, lagi musim durenn..jadi sepanjang perjalanan kami kembali ke Waipirit, jalan jalan dipenuhi ibu-ibu penjual duren. Asekkkk.. Belah duren terus Banggg!!! Bayangin, Rp. 50K dapet 6. Disini durennya masih fresh, karena benar-benar yang dijual itu memang ya sudah matang karena langsung jatuh ke tanah sendiri, bukan dipetik paksa. Ibu saya kalau nggak diingetin supaya khilaf makan duren mungkin kolesterolnya bisa naik. Eh sampe dirumah, ternyata saya yang sakit kepala. Haduh! 

Overall, Ora itu keren. Tapi menurut saya, harusnya pihak resort atau dinas pariwisata harus lebih ngembangin ini daerah, Akan lebih bagus kalau dibuat seperti wahana water sport atau taman kuliner  yang megah supaya lebih variatif dan hidup. Rasanya plain banget kalau hanya menjual pemandangan. Oiya, rata-rata orang Ambon yang saya tanya ternyata belum pernah ke Ora. Ini karena jaraknya yang jauh dan lumayan costnya kesini. 

Dan demikianlah perjalanan nekat kami ke Ora yang hanya menghabiskan satu hari. Ya, satu hari saja! Benar-benar gilaa, but we did it! 

COST TRIP :
Start from Tulehu via kendaraan pribadi (5 orang)
-Bensin PP Tulehu-Saleman                                                      : Rp.     300.000
-Tiket Penyebrangan + hitung orang                                         : Rp.     267.500
  Kendaraan Gol IV @185K Nyebrang per orang @16,5K
- Biaya Penginapan Pasir Putih Saleman                                   : Rp.  1.050.000 
  (sudah masuk makan 3x) @350K 
- Sewa Long Boat (24 jam)                                                        : Rp.     700.000 
- Retribusi masuk Ora Resort @20K                                         : Rp.     100.000
- Makan durian (6 buah, 50K)                                                    : Rp.      50.000 

                                                                                  Total          : Rp.  2.467.500


TIPS : 
  • Berangkat pagi. Supaya kalau cuma bisa trip sehari, waktu disana bisa lebih lama.  
  • Berangkat pagi supaya nggak kemaleman sampai disana karena ada beberapa bagian rute perjalanan yang jalannya sempit dan lewat hutan 
  • Kalau lewat Waipirit, perhatikan jam kapal menuju Ambon, agar menyesuaikan waktu pulang kapal - Disini No ATM, Di Waipirit masih ada BNI atau BRI. Tapi kalau udah didaerah Saleman, udah nggak ada, jadi sedia cash
  • Pergi barengan supaya cost bisa jadi lebih murah 
  • Daripada nginep di Ora, lebih baik nginep di Penginapan Pasir Putih yang lebih terjangkau (CP: 082197974300/081247343895)