Kamis, 05 Maret 2020

Tentang Nepal, Sebuah Impian yang Terwujud

Tahun 2017 lalu, saya menulis postingan ini, intinya saya mau ke Nepal dan tahun 2019 itu terwujud.

Baca : Tentang Nepal

Bagi saya ini bukan hal biasa Wowwwww! I did it! Man Jadda Wajada!

Awal Maret saya mencoba cari travel tour yang mengadakan perjalanan ke Nepal, dan akhirnya ketemu Inframenepal.  Meski track perjalanan saya berubah (harusnya Annapurna Circuit) dan gaji bpjsku tertunggak berbulan-bulan lamanya, saya tetap membulatkan tekad ke Annapurna Basecamp (ABC). Ini adalah tempat tertinggi yang saya naiki, 4130 mdpl.  This is once in a lifetime!

Masih dengan rambut alay yang terkibar angin :p

Dan inilah cerita perjalanan saya. Muncullah satu-satu orang yang menuju ke ABC bareng. Ketemulah saya sama satu cewek gunung dengan deskripsi baju hitam, celana merah,dan kacamata merahnya, yang bakal jadi roommies saya nanti. Lalu couple dari Banjarmasin, pasangan banker dan dokter yang lagi liburan. Teman dari Papua yang memutuskan liburan jauh disela-sela offnya, dan saya bertemu teman-teman lainnya ketika di Thamel. Kami ber-17 akhirnya berkumpul untuk mendaki bersama.

Dijemput Sujan. Bossnya alpine tour of himalaya ;) ganteng yaak
Ber-17, sebelum muka menderitanya keluar ;p

Awalnya saya ketar-ketir karena untuk kesini, kita diminta untuk olahraga 1-2 bulan sebelumnya. Dan saya nggak olahraga sama sekali dong. Bayangin aja, sehari sebelumnya, saya masih jaga sore malam di RS. Pulang selalu udah dalam keadaan pingsan tepar.

Tanggal 2 November tengah malam akhirnya saya pergi ke Nepal via transit KL. Kurang lebih sore esok harinya saya sampai di Thamel. Kami pun makan Dal Bhat (nasi dengan berbagai lauk, tapi kurang sesuai sama lidah indo saya) dan keliling-keliling sebentar pasar di Thamel. Besoknya kita pergi bersama ke Pokhara dengan perjalanan kurang lebih 8 jam dengan bus.

Dal bhat is not my thing
Jalan-jalan sendiri dulu di Pasar Thamel, dekat penginapan

Day 1 : Mokyu-Jhinu-Chomrong

Keesokan harinya kita mulai perjalanan hari pertama menuju lokasi pertama, Chomrong 2170 mdpl.
As you know, hari pertama always hard. Apalagi dengan badan yang nggak olahraga (which is not recommended. cari mati banget daah.) Kami menaiki jip menuju Mokyu kurang lebih 4 jam. Trek jalan lumayan ekstrim, ajojing banget deh bawanya, membuat kita 'joget-joget' dan elus dada lihat kelakuan supir sepanjang perjalanan.

Sampailah kami di Mokyu. Apa dibikin disini? Kita disuruh makan siang pakai dal bhat lagi dong! Terlanjur dipesan pula! Yaudahlah, yang penting adalah quantity, not quality. Setelah isi 'bahan bakar', akhirnya kita mulai start trekking. Sepanjang jalan, kita melewati suspension bridge. Dahulu sebelum ada bridge ini, konon katanya kita harus turun bukit, melewati sungai, baru naik bukit lagi. Beruntunglah perjalanan kita tak sesusah dulu.

Hello Equus asinus aka Donkey!

Menuju Chomrong adalah tantangan yang cukup sulit, biar jalan itu tangga, akan tetapi  rutenya nanjak terus dan tak ada habisnya. Saya memutuskan jadi rombongan di belakang aja. Dari awal sampai akhir perjalanan saya selalu stay dibelakang. Ala-ala alasan jadi tim medis, tapi sebenarnya dibelakang biar gampang berhenti curi-curi istirahat ambil nafas. Hehehe

Di penginapan Chomrong. Muka masih cerah dan hepi hepi

Kami sampai di penginapan Chomrong sekitar Maghrib. Perjalanan dari Mokyu - Jhinu - Chomrong memakan waktu kurang lebih 5 jam. Karena tiba masih sore, kita masih punya waktu untuk makan malam dan tidur yang cukup adekuat. Sejak kutahu makanan Nepal kurang masuk ke lidah, akhirnya keluarlah rendang dan serundeng andalan kami. Beruntung, punya roommies yang sepemikiran bahwa kita harus hemat uang diawal. Jadi kebanyakan makanan yang kami pesan mayoritas hanya plain rice and hot water. Lauknya ya si rendang itu. Sisanya minum gratisan pakai tap water ajalah. Hahaha. Tak lupa, setelah makan malam kita selalu dibriefing oleh Purba dan Tsiring Sherpa (aka. pemandu) untuk rencana perjalanan selanjutnya. Awalnya saya agak khawatir, kami ber17 orang Indonesia tidak didampingi pemandu Indonesia sama sekali. Benar-benar sama orang lokal saja, tapi kekhawatiran saya tak berarti. Mereka pun jago bahasa Inggris, ramah dan sangat komunikatif ke peserta.

Briefing after dinner.
Tsiring Purba will explain our route for tomorrow.
He always grabs a note and write our foods order.
I always wonder why his face always looks serious?
Hahaha.
santaay mass!
with one of my tour guide, his name is Tsiring. My Hero in Annapurna :) 
Saya suka iseng manggil dia my boyfriend. 
Rebutan boyfriendlah aku sama si Tasia. hahaha

Day 2 : Upper Shinua-Bamboo-Doban
Menuju Upper Shinua memakan waktu kurang lebih 3 jam. Rute hari ini merupakan rute seperti hutan-hutan gunung di Indonesia. Cuaca lumayan bagus diawal walau disore hari, hujan gerimis turun. Untungnya saya udah pinjem poncho kalibrenya adik, jadi amanlah. Dari Shinua ke Bamboo memakan 2 jam, dan kami istirahat malam itu di Doban. Makanan malam yang saya pesan pokoknya jangan dal bhat lagi. Korean noodle dan garlic soup cukup menghangatkan badan yang mulai mild hypotermia. Oiya, kalau Wifi di setiap penginapan bayar. Jadi saya numpang Wifi di teman saja cuma untuk mengabari keluarga. Makanan juga semakin naik, semakin mahal. Jangan lupa bawa cash ya.

Teletubbies in the rain

Jalan-jalan santayyy

Day 3 : Himalayan-Dhurali-Macchapurche Base Camp (MBC)
Inilah rute termelelahkan sepanjang perjalanan. Prakiraan waktu kami meleset. Ini juga karena efek ketinggian yang sudah diatas 3000an. MBC berada di ketinggian 3800an mdpl. Sudah mulai rentan terkena hypotermia dan altitude sickness. Tapi untungnya saya belum merasa perlu meminum diamox (aka asetozolamide). Dari Dhurali menuju MBC memakan waktu 3 jam. Daerah sekitar sudah mulai berubah iklim, menjadi bukit dan pegunungan hijau yang terhampar luas. Saat memasuki MBC, bukit-bukit yang dilewati mulai dilapisi es dan salju sedang. Matahari sudah terbenam pun, kami masih dijalan. Udara makin dingin, kabut mulai menghalangi pandangan kami, bernafas mulai agak sesak. Rombongan terakhir sudah mulai kehabisan tenaga dan bergantian-gantian bertanya kapan kami sampai. Seperti biasa, Sherpa bilang sudah dekat, tapi sebenarnya masih jauh. (Jangan percaya interpretasi jarak dengan anak gunung, speed mereka beda. Zzzz)

Anak squad belakang

Day 4 : Summit, Annapurna Base Camp (ABC), back to MBC-Himalayan
Saatnya Summit! bagian ini selalu menjadi yang paling mendebarkan karena ini klimaksnya. Malamnya, saya tidak bisa tidur. Bernafas diketinggian itu membuat saya sesak. Dan roommies kerjanya ke toilet mulu dan saya malah nggak boleh gerak-gerak berlebih sama dia. Tapi overall, lumayanlah tidurnya. Karena senter hilang entah dimana dan agak riskan pake senter HP, akhirnya saya pakai penlight (yang buat periksa pasien). Tak ada rotan, akar pun jadi!

Awalnya kami jalan berbarengan, lama-lama akhirnya memisah satu sama lain. Makan baru dikit doang langsung jalan dingin-dingin. mual berat buat orang yang kena GERD kayak saya. Kurang lebih jam 6 kita sampai di Annapurna Basecamp. Dimulailah ajang foto dan selebrasi dancing-dancing kami ber-17. Check out the video!


Celebrate our journey with the dance. Eh, ada si kupluk kuning malah bengong! wkwkwk

Touchdown Annapurna Bsecamp 4130 mdpl!

Subhanallah!
Me and Hal, my roommies!
Betapa leganya diriku disini!

Day 5 : Chomrong
Menuju Chomrong lagi dengan tangga yang tanpa habisnya! Haduh!
Tapi beban kita sudah lepas semua!

Fotonya udah rileks. Karena bebannya udah dibuang di ABC semua!
Banyak suka duka, tangis dan ketawa dalam perjalanan ini.
I see a lot of girls cry here T.T 

Day 6 : Pokhara
Alhamdulillah, akhirnya sampai kembali di Pokhara dengan selamat tanpa kurang apa-apa. Kurang lebih sore hari kita sudah sampai hotel. Malamnya kita farewell party di KFC sama sherpa-sherpa keren dari Alpine Club of Himalaya/Inframenepal yang telah mengantarkan kami selamat sampai tujuan dan akhirnya kembali ke Pokhara. Tanpamu, kami tak bisa apa-apa. Hiks

Day 7 : Pokhara, extend sampai malam
Pagi harinya, teman-teman yang lain on the way ke Thamel. Saya dan rommies extend pulang malam harinya dari Pokhara karena ingin mencoba paragliding disini pagi harinya. Ada insiden sih, nanti ceritanya dilain sesi. Hehe. Akhirnya kita berakhir pulang dengan bus malam ke Thamel. Gimana perasannya naik bus malem-malem disana? Bayangin aja kamu naik bus nanggung, dikasih selimut, cemilan makan minum, lampunya remang-remang neon biru nggak bisa dimatiin, dengan irama lagu India volume besar sepanjang jalan. Arghhhh! Sampai nggak ngerti kenapa si roommies bisa tidur lelap disampingku dengan kondisi begitu. Ckckck. Sampai depan penginapan, pas kita mau masuk, eh ada orang berantem habis keluar dari bar. Eh, ramailah penonton disana! Creepy! Setelah pintu dibuka, kami langsung cepat-cepat masuk.

Day 8 : Thamel
Ini hari terakhir kami di Thamel. Kita menutup perjalanan kami dengan belanja, makan, dan minum lassi. Lassi adalah minuman khas Nepal yang nagih banget rasanya. Yoghurt campur susu manis dengan topping kacang-kacangan diatasnya. Kami ditraktir Ka Sally dari Inframenepal. Makasih banyak kak!

Cari magnet dan singing ball yang murah. taken by : ka welita :)

Yummy Lassi

Di tahun 2019, memang saya tak melakukan apapun yang besar.
Tapi dengan perjalanan akhir tahun ini menjadi penutup tahun yang luar biasa bagi saya.
Alhamdulillah, I did it, Mannn!!!

Next, kita kemana ya?

Foto Punya Cerita : Trip Akhir Tahun di Ujung Kulon

Banyak yang bilang Ujung Kulon itu bagus. Saya bilang ini lumayan. Berikut foto-foto saya saat disana. Berikut perjalanan saya di tahun 2017 lalu. Untuk detail-detail perjalanannya saya lupa. Maafkeun!














Selasa, 29 Mei 2018

Travel Side Story : Hal Tergila yang Pernah Gue Lakukan Saat Traveling!

Selama gue traveling, terlalu banyak hal gila yang gue nggak bisa lupain.
Tiga hal dibawah ini adalah best crazy moments that ever happen to me.

1.  Nebeng Mobil Sayur Kembali ke Hostel

Hal ini terjadi saat solo-travel ke sumatera utara tahun 2012. Saat itu gue menginap di hostel di Desa Tongging, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Alasan kenapa kesini? Karena kepo, mau lihat view Danau Toba dari sisi yang berbeda. Beberapa hari sebelumnya, saya ke Parapat. Tampilan Toba dari arah situ tampak kurang ‘wow’. Akhirnya saya tanya-tanya orang sekitar dan searching via internet dimana saya bisa seeing view Toba dari tempat lain. Banyak sumber yang mengarahkan saya kearah Kabanjahe dan menginap didesa Tongging, lagipula ini juga tak jauh dari tujuan gue berikutnya, Air Terjun Sipiso-Piso. Hari kedua saya di Tongging, saya berencana ke Sidikalang untuk melihat Taman Wisata Iman (TWI) yang katanya kece bener. Saya naik kendaraan omprengan biasa panggil orang lokal itu ‘otto’ yang biasa lewat dua kali sehari. Seperti biasa, travel kadang-kadang kita mendapat destinasi yang kurang ‘sreg’ seperti TWI ini, Mengelilingi tempat yang luasnya nyaris setengah Taman Mini dengan jalan kaki itu nguras tenaga luar biasa. Pas gue balik, ternyata balik ke main point ke Pasar Kabanjahe itu jauh banget. Saat itu gue baru sampai pas jam 7 malam, Sedangkan otto ke desa gue terakhir jam 5 sore. Anjrit! naik apaan gue? Sampai di Pasar Kabanjahe, saya kembali merogoh sisa uang ditas kecil. Ampun, sisa 20 ribu! HELPPPP…I am BROKEE!!!

Gue langsung cari ATM BRI terdekat dan ngecek saldo. Alamak! Sisa lima puluh ribu!!! u knowlah, BRI saldo limitnya 50 ribu, jadi nggak bisa diambil. Hiks! Langsung gue sigap nelpon nyokap minta uang. ARGHHHH!!! nggak diangkat-angkat. Alhasil gue bingung. Gimana nih selanjutnya pergi ke hostel dengan modal uang 20 ribu sampai bsk? Saya pun mulai tanya-tanya orang Saat lagi mikir-mikir dan putar otak gimana cara bertahan sampai besok, tibalah truk sayur nangkring didepan atm. Saya pun iseng bertanya kemana truk sayur ini pergi. Ternyata dia kearah yang sama, ke sebelah desa gue! Dan akhirnya gue bisa nebeng truk itu sampai ke penginapan. Nggak bayar sama sekali! Thank God!!!  

2.  Nyaris Ditinggal Pesawat di Malaysia

Tahun 2016, persis sebelum penugasan dokter internsip ke daerah, saya nyempetin jalan ke Thailand dan Malaysia. Saya sendiri tinggal di salah satu hostel Bukit Bintang di KL. Entah kenapa, ini tidak direncanakan ya, kalau saya nginep, entah di Thailand atau Malaysia, saya selalu dapat hostel sekitar daerah kafe dan bar, tapi tak apalah, lebih gampang akses minum-minumnya. Hehehe. Anyway, rencana saya pesawat menuju Jakarta dari Malaysia sekitar jam 1 siang. Dan saya baru bangun jam 9 pagi. And I think I still have some time left. Jam setengah 11 saya baru berangkat naik monorail dari Bukit Bintang menuju KL Sentral. Selanjutnya saya harus nyambung dari KL Sentral dengan naik KLIA express line ke KLIA2.

Dan gue nyampe jam 12.30. Bandaranya ternyata jauh gila, jauh dari tempat perhentian stasiun. Feeling gue udah nggak enak. Sampai di tempat boarding, gue langsung ketemu petugas Orang India dan nunjukin tiket. Pas liat tiket online di hp yang gue kasih, air mukanya langsung jadi ngernyit, “Sorry, the gate is closed. You cant get in there.” Kagetlah gue. Gue minta penjelasan dan pelonggaran waktu, tapi si Mbak-mbak India still say big no. Gue pun diarahin ke costumer service untuk penyelesaian lebih lanjut. Di CS pun gue ditolak. Langsung lemeslah badan ini. Tanda 5L keluar semua. Gue duduk ngeraung-raung bak anak kecil dengan pura-pura ngeluarin air mata buaya bilang kalau gue nggak punya duit lagi. Jadilah gue tontonan warga sekitar. Sambil liat-liat sekitar, akhirnya ada CS orang melayu hijabers, gue pikir mungkin gue bisa lobi lagi. “Sorry Miss, can I still get in that plane? I don’t have money anymore, please help me. Tolonglah saya kakak.” Gue pun ngerajuk-rajuk keluar jurus ngerayu satu rumpun. "Tunggu ya, cuba ditelfon sebentar.", jawab si mbak CS. Setelah cekcok alot yang lama di telpon sama petugas gate bandara tentang penumpang terlambat ini, akhirnya gue diijinin masuk. Gue pun diantar sama petugas laki-laki India dan dia bantuin bawa oleh-oleh gue dari Thailand. Wanjrit, Pintu menuju gate pesawat jauhnya naujubilahminjalik!

 “Run Miss Run!”, mas-mas Indianya lari teriak didepan gue. Kampret elo pikir gue ngapain daritadi. Ini carrier eiger gue udah lebih beban 60 kilo harus gue bawa dipundak sambil lari2 cepat. Gue sama si India akhirnya nyampe pintu pesawat jam 13.15, that means gue yang men-delay pesawat, bukan sebaliknya! I feel honoured! Hahaha. Pas masuk pesawat, gue bisa ngerasain tatapan-tatapan nyinyir dari warga sekitar. Yeayyy Finally, I made it! Ternyata Allah masih sayang sama bekpeker kere macam gue.

3.  Adegan Buang Carrier dan Tragedi Kuku Cantengan

Akhirnya gue kesalah satu Gunung di Jabar, Pangrango. Kalau nggak salah, sekitar pertengahan 2017. Saat itu, gue naik dalam keadaan cuaca yang masih sering hujan. Dan waktu gue naik ini, ini pertama kalinya Pangrango dibuka lagi setelah lama 3 bulan tidak dibuka karena cuaca yang buruk. Pas perjalanan naik gunungnya sih aman. Tapi pas turunnya, IT’S TOTALLY DISASTER! Kita turun dari camp itu jam 6 malam teng, super-telat-parah. Senter gue juga sempet rusak gara-gara jatuh dan ada abang-abang sotoy yang salah masukin lampu dan baterai senter. Awalnya gue jalan didepan, lama-lama gue dibelakang karena cuaca yang hujan. Dan gue ditinggal panitia tour tripnya, WTF! Dan gue ditemenin dua-anak-sma-ganteng yang udah sering naik gunung. Dan kita semua berkacamata. Pas lewat pos air panas, semua matanya berembun. Senter powerbank gue tewas tenggelam di air panas. That means senter hp mereka jadi satu-satunya penolong orang-orang buta ini. Gue jatuh dan cowok-cowok ini juga jatuh. Ampun deh!

Setelah itu kita jalan dan jalan. Ini jalan kok nggak ada habisnya ya? Lama-lama kaki gue ngerasain sakit dibagian ujung jempol gue. Gue udah duga, ini et causa gue ganti kaos kaki gunung jadi kaos kaki biasa dan lupa motong kuku jempol kaki. Mana lagi medannya berbatu dan hujan lebat. Sial, gue akhirnya sering minta berhenti. Pikiran gue, fix nih kaki gue pasti luka dan berdarah didalam. Terus gue jalan, jalan dan jalan lagi. Ini lebih parah daripada momen pertama kali gue naik gunung di Sulawesi dulu. Sampailah gue pada titik nadir keputusasaan. Gue teriak-teriak parah dan ngambek sambil buang carrier gue berharap supaya menggelinding ke bawah sampai di camp (it’s so absurd). Si adek-adek ganteng bilang selalu sabar-sabar-sabar. Adanya gue bentak balik saking capeknya. (mulai kelihatan asli nyebelinnya mahluk ini)

Gue nyampe jam 1 malam, itu perjalanan gunung tercapek yang pernah saya alami. Besoknya kita udah mulai kerja dan si tour trip bahkan masih leyeh-leyeh sampai jam 3 pagi. Gue yang besok jaga klinik udah stress juga mikirin keburu atau nggak nih waktunya. Jam setengah 6 sore sampai di Kampung Rambutan dan jam setengah 8 baru sampai Bekasi. Dan akhirnya gue alihkan jaga itu ke orang lain. Tak mampu aku sungguh tak mampu! Sampai rumah, gue langsung ambil posisi tidur dikarpet, masih dengan celana gunung gue yang penuh tanah dan bau badan luar biasa.

Hari itu gue bedrest satu hari total. Tewas. Tired Superb!

Anyway, pas bangun, akhirnya gue punya tenaga buat merhatiin itu kuku-kuku jempol gue. Yang sebelah kanan udah mau lepas, yang kiri udah memar parah.

Fix cantengan stadium akhir!

Mama udah suruh untuk buka itu kuku, tapi gue masih coba pertahanin karena seminggu berikutnya harus trip ke Ambon dan pasti banyak kegiatan snorkeling. It must be so painful if gue berenang dengan kuku yang abis dicabut. Itu kayak lo mau makanan enak, tapi mulut lo penuh dengan sariawan. Ckckck!

Dan akupun tahu, nasib kuku ini makin sekarat..

Sebulan kemudian, kuku jempol kaki kanan gue akhirnya terlepas total pas kena ujung tempat tidur dikamar jaga RSU Enrekang. Gue teriak dan langsung lari kedepan IGD. Gue lepas kuku yang tersisa dan bersihin luka sendiri tanpa anestesi (tabah banget ya gue?) Sedangkan nasib kuku kiri gue itu lama-lama panjang dan terus dipotong. Kuku yang memar itu samar-samar menghilang dan bagian yang retaknya juga hilang karena pergantian kuku. Mereka pun sembuh sedia kala setelah lima bulan.

Okay, That's Story of My Life!
Pengalaman ini tidak membuat saya kapok untuk jalan-jalan, justru cerita-cerita ini membuat gue menyadari bahwa betapa berharga dan berwarnanya hidup. How lucky I am!

Hmmm, gue akan sangat bangga (dan senyum-senyum sendiri) saat menceritakan kisah gila ini ke anak dan cucu-cucu gue nantinya :)