Rabu, 14 November 2012

Memanjakan Perut dengan Kuliner Medan

Setelah backpackingan sendiri keliling Sumatera Barat dan sekitar Danau Toba, sampailah saya pada destinasi terakhir, Medan! Kenapa saya menjadikannya terakhir? Karena setelah searching dara, saya tahu Medan jauh lebih terkenal akan kulinernya dibanding tempat wisatanya. Karena cuma punya waktu dua hari satu malam, tak tanggung-tanggung, saya biarkan perut saya bermanja-manja pagi, siang, malamnya. Hasilnya, berat saya langsung naik 3 kilo! Arghhh!! Inilah menu-menu kuliner yang saya coba : 

• PAGI, 1 November 2012 
Saya tadinya tidak terpikir untuk mencoba ini karena tujuan saya mau ke FK USU, mau sok-sokan SKSD sama mahasiswa fk yang lain. Ternyata mereka ujian serempak dan susah untuk ditunggu. Mereka pakai kemeja putih sdangkan saya pakai kemeja hitam. Tuh kelihatan banget asingnya kan? FYI, tiba-tiba pas nyari-nyari angkot pulang, saya ketemu sejejeran kursi dan meja plastik yang dijajakan di depan RS USU Adam Malik yang belum jadi itu. Karena penasaran, saya mendekat, ternyata orang jual kolak durian toh. Hahaha. Akhirnya saya nyoba makan. Setalah dilihat bentuk dan dicicip, rasanya sama dengan Es langkok ketan durian yang saya coba di depan Mesjid Raya Bukit Tinggi. Bedanya, Cuma dikasih kolak, makanya namanya Kolak Durian. 

Kolak Durian depan FK USU

• SIANG, 1 November 2012 
Setelah dari FK USU, saya mau pergi ke Jalan Iskandar Muda untuk coba Ucok Durian yang terkenal untuk cari Durian terkenal dari Sidikalang (daerah ini terletak di Kabupaten Dairi, satu kabupaten dengan Desa Silalahi). Saya kirain udah buka karena jam di tangan sudah nunjukin pukul 12 siang. Eh tenyata dan ternyata, standnya masih kosong. Saya pun langsung gontai tak berdaya. Meski udah terseok-seok, saya akhirnya naik becak motor minta diantar abang untuk cari tempat durian yang lain. Akhirnya diantarlah saya ke dekat Jalan Setia Budi, ada beberapa jejeran toko buah durian salah satunya Toko Durian Pelawi. Karena lagi enggak musim, akhirnya saya nyobain durian dari Aceh. Harga bervariasi sesuai dengan besarnya durian. Sekitar Rp. 20.000-30.000. Saya makan kalap satu durian. Abang-abangnya cengok doang lihat saya makan kayak orang kesetanan. Yaiyalah! Udah lama enggak makan! Tak jauh dari situ, saya langsung jalan ke Jalan Setia Budi untuk having lunch Mie Titi Aceh Bobrok. Saya pesan mie titi kepiting daging. Yummy

Mie Aceh Kepiting Daging

• MALAM, 1 November 2012 
Saya pulang sebentar ke hotel. Sempat mikir-mikir, apakah saya mau ngelanjutin kuliner malamnya ke tempat lain atau enggak. Akhirnya pas jam 19.30, saya pergi ke arah Sun Plaza untuk mencicipi kuliner khas Kampung India, yaitu Kuliner Pagaruyung. Tempat kuliner ini tidak jauh dari Sun Plaza. Anda tinggal berjalan 10 meter untuk mendapatkan Gapura Kuliner Pagaruyung ini. Ketika saya masuk kesana, susunan meja-meja di setiap stand berjajal rapi dengan menyajikan kuliner yang sama. Ya, kuliner khas India. Canai, Martabak India, dan masih banyak lagi. Rata-rata memang orang keturunan India yang sudah berasimilasi dengan orang lokal yang berjualan disini. Anda juga dapat mencoba Kwetiau Akuang yang pernah menjadi salah satu kuliner yang dijajaki Bondan Winarno di Medan. 

Martabak India Sosis dan Kwetiau Akuang

• PAGI, 2 November 2012 
Jam 6 sore saya harus berangkat ke Jakarta. Masih ada sembilan jam lagi berarti. Akhirnya jam 10, saya memutuskan pergi untuk berkuliner ria ke Lontong Ka Lin yang terletak di depan SMA 1 Medan. Tempat ini tidak jauh dari Kuliner Pagaruyung kok. Anda tinggal jalan sedikit. Saya datang, duduk, langsung pesan. Setelah nanya bapak-bapak yang lagi makan disebelah saya, katanya lontong pecelnya yang enak. Akhirnya saya coba yang itu. Enak sih, tapi pas lihat orang-orang sekitar kok pada makan lontong sayur semua? Karena takut nyesel enggak nyoba, akhirnya saya lanjut round 2, Lontong sayur dan sate kerangnya. Setelah saya coba keduanya, secara rasa, masih lebih enak lontong pecelnya. Jadi Anda lebih baik coba yang itu saja. Dijamin wuenak tenan! 
Lontong Sayur Ka Lin
Lontong Pecel Ka Lin

• SIANG, 2 NOVEMBER 2012 
Setelah makan Lontong Ka Lin, saya balik ke hotel karena sebentar lagi sudah harus check out. Akhirnya saya membunuh waktu minum dan nonton TV di lounge hotel. Waktu kok lama banget jalannya? Masih jam 1 lagi. Tiba-tiba saya ingat pesanan ibu saya, bolu meranti. Tidak jauh dari Mesjid Raya, ada cabang Toko Bolu Meranti di Jalan Sisimangaraja, dekat Garuda Hotel. Banyak variasi Bolu Meranti yang Anda dapat coba. Dari yang standard sampai yang ada toppingnya bisa Anda coba. Harga berkisar dari Rp. 40.000-70.000. Dari sana, saya balik lagi ke hotel sambil bawa kardusnya Bolu Meranti tiba-tiba saya ketemu warung-warung kelontong yang ternyata jual TST (Teh Susus Telur). Wah, kayaknya enak nih. Setelah pesan satu, saya nyoba. Hmm, rasanya kayak teh tarik kental. Kentalnya TST ini berasal dari telur bebek mentah yang dikocok. Walau ada sedikit bau amisnya, tapi TST ini enak kok. Bagi yang enggak terlalu suka amisnya, biasanya ada jeruk nipis untuk menetralisir amisnya telur bebek ini.
TST alias Teh Susu Telur

Gimana? tertarik mencoba?
Karena terbatasnya waktu, masih banyak kuliner yang belum saya coba seperti Kuliner Wajir, Es Apo, Tiptop Restaurant, dan masih banyak lagi. Suatu saat saya pasti balik lagi ke Medan untuk mengeyangkan perut saya dengan kuliner-kuliner yang maknyus di Medan! Yeahhh!!!

1 komentar:

  1. Untuk mendapatkan diskon, promo & deal kuliner, makanan, travel, spa lebih dari promo kartu kredit di kota medan silahkan kunjungi www.dealmedan.com

    BalasHapus