Selasa, 13 November 2012

Sulit Air, Kampuang Ambo!!!

Menuju Sulit Air, Kabupaten Solok, Padang, kampung halaman saya, bukan merupakan hal yang mudah. Memesan tiket bus dari jauh-jauh hari di Rawamangun, menunggu bus yang terlambat tiga jam, sampai menikmati malam di kapal penyebrangan menuju Bakaheuni, Lampung menjadi pengalaman yang berharga bagi saya. Menghabiskan waktu perjalanan satu setengah hari menuju Simpang Sulit Air membuat saya mengenal berbagai karakter orang. Masih banyak generasi ‘menengah’ yang masih bertahan dengan tradisi transportasi darat dibanding udara. Kebanyakan alasannya, disamping harga bus yang lebih ‘miring’, lebih nyaman dan sudah biasa lewat jalan ini menjadi alasannya. Tak terasa, waktu telah menunjukkan pukul 03.35 WIB ketika saya sampai di Simpang Sulit Air, Singkarak. Sanak Saudara yang baru saya kenal akhirnya menjemput dan mempersilahkan saya untuk menginap beberapa hari di rumahnya, tepatnya di Jorong (red: desa) Siaru. Kebetulan sanak saya adalah seorang Kepala Jorong di Siaru. Keesokan harinya, saya mulai menyelusuri potret kehidupan masyarakat Sulit Air. 

• Pasar Balai 
Pasar Balai merupakan pasar besar yang ada di di Koto Tuo, Sulit Air. Setiap Jumat, pedagang dari luar berdagang disini menjajakan dagangannya. Kita juga bisa menemukan beberapa makanan dan minuman khas disini seperti Godo, Goreng Tapai, Karipik Sanjai, Ongol-ongol, Kacang goreng, Es tebak, dan Es Cindua (Es cendol yang dicampur ketan merah dan kelapa)  

Kuliner Khas Sulit Air

Es Tebak
• Titi Bagonjong 
Jika dilihat dari dekat, Titi Bagonjong hanyalah jembatan biasa. Tapi jembatan ini sudah berdiri sejak zaman Belanda untuk menghubungkan satu desa ke desa yang lain. Tidak hanya itu, Titi Bagonjong merupakan tempat mandi masyarakat Sulit Air sebelum ada WC. Kata ‘Sulit Air’ sendiri bukan sembarang nama diberikan. Daerah ini merupakan daerah yang benar-benar sulit air waktu dulu sehingga Kali Katialo ini akhirnya menjadi satu-satunya tempat mandi untuk masyarakat Sulit Air. 

• Rumah Gadang 
Kebiasaan Orang Padang yang merantau sejak ratusan tahun yang lalu merupakan alasan utama dibuatnya Rumah Adat Gadang 20 ini. Rumah ini dimaksudkan untuk ditempatkan perantau yang sudah tidak punya rumah apabila pulang dari perantauan. Salah satu Rumah Gadang yang masih tetap berdiri kokoh di daerah Guguk Raya, Sulit Air, yakni Rumah Gadang 20. Sekilas dari luar, rumah ini berdirikan atap dan kayu yang layu dimakan usia. Tak heran, usianya sudah mencapai 200 tahun! Ketika masuk kedalamnya, atap masih sangat terlihat kokoh ditopang oleh 105 tonggak kayu di sepanjang koridor. Saya menghitung sendiri bahwa kamar berjumlah tepat 20. Salah satu penghuni tetap Rumah Gadang, Bu Mina, mengatakan bahwa dirinya sudah menempati rumah gadang ini sejak muda. Masing-masing kamar milik turunan dari moyang-moyangnya. Sayangnya, tinggal tiga kamar yang ditempati dari 20 kamar yang kosong. Bagian-bagian kamar yang tidak ditempati perabot berdebu dan tak terurus. 

Rumah Gadang 20
• Janjang Siribu 
Seperti wilayah Padang yang lain, Sulit Air dikelilingi gunung-gunung yang indah. Gunung Merah dan Gunung Putih salah satu gunung yang kita bisa nikmati pemandangannya dari Sulit Air. Sebenarnya dinamai Gunung Merah dan Putih karena masing-masing dari bagian gunung terdapat dinding berwarna merah dan putih. Untuk mencapai puncaknya, masyarakat setempat mengumpulkan dana swadaya untuk membuat seribu buah tangga lebih untuk mencapai puncak gunung ini. Tempatnya dinamakan Janjang Siribu.


• How to get there? 
Menuju Kampung Sulit Air, ya, susah-susah gampang. Jika dari Jakarta, Anda cukup mencari bus di Terminal Rawamangun. Banyak jasa bus yang ditawarkan disana dari kelas AC Toilet sampai kelas ekonomi. Harga tiket bus sekitar Rp 250.000-400.000an tergantung bus apa yang Anda naiki Anda bisa turun di Simpang Sulit Air Singkarak dilanjut naik transportasi ojek ke daerah Sulit Air. Sedangkan penginapan tidak bisa Anda temukan di daerah Sulit Air. Tapi jangan khawatir, Anda bisa menemukan penginapan murah di sekitar Danau Singkarak ataupun di Kota Solok.

4 komentar:

  1. Tarimo kasih infonyo, mohon izin link ke Blog Ambo...(Urang Sumando)

    BalasHapus
  2. terimo kasih infonyo, izin link ke blog ambo (urang Sumando) http://wisatakeluargass.blogspot.com/

    BalasHapus
  3. Salam SAS, ambo urang sas, Apak Simabur, ibu. Limo singkek, ambo baru belajar buat blog...izin Link: http://wisata5758.blogspot.com/2014/02/sulit-air-solok.html

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum,, gunuang merah L.A. Bisa naik motor ka ateh tu kini,

    BalasHapus