Sabtu, 26 November 2016

CORETAN UPRIT! (CuPrit!) : ENREKANG (1)

Halo! Lama tidak ngapdet blog dokterngacir nih.
Ini dikarenakan penulis yang terlalu malas menulis dan sibuk dengan urusan tidak pentingnya (sok sibuk). Oiya, kali ini saya akan membahas satu tempat destinasi wisata yang sudah/sementara saya kunjungi. Namanya Enrekang 

Dimana itu Enrekang?

Enrekang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Sulawesi Selatan. Jarak Makassar-Enrekang dapat ditempuh kurang lebih 6 jam. Kalau ke Toraja, Enrekang merupakan kabupaten yang dilewati persis sebelum Toraja. Tempat inilah yang saya pilih menjadi tempat saya tugas sebagai dokter internsip selama setahun . Alasan kenapa saya mengambil tugas dokter disini (bukan dibekasi atau tempat wahana nasional seperti yang direncanakan sebelumnya) tidak lain karena alasan libur. Saya dapat dua bulan tugas, dua bulan libur. Hal ini sejalan dengan prinsip saya. Tidak akan kubiarkan kerjaanku mengangguku liburanku! :)

Di sela-sela kesibukan saya selama bertugas di RS Massenrempulu dan Puskesmas Anggeraja, ada kalanya saya super bosan dan akhirnya memutuskan jalan ngalor-ngidul keliling Enrekang. Ternyata, banyak buanget tempat wisata Enrekang yang menarik untuk dijelajahi.

Gunung Nona
Tidak diragukan lagi, Enrekang merupakan daerah yang dikelilingi gunung dan salah satu trademark daerah ini adalah Gunung Nona (Buntu Kabobong-Bahasa Duri yang artinya alat kelamin perempuan karena gunungnya berlayer-layer seperti alat kelamin). Gunung Nona dapat kita nikmati disepanjang jalan poros Enrekang-Toraja. Banyak spot-spot restoran, warung kopi, maupun warung oleh-oleh yang langsung menghadap “wajah Gunung Nona.” Resting dan Restoran Alam Indah salah satu dari banyak spot restoran yang saya sering datangi. Kali ini, sambil menikmati satu mangkok mie kuah telur dan teh tarik panas di Alam Indah, saya memutuskan berlama-lama menghirup udara dan memanjakan mata saya melihat hamparan hijau Nona. Sungguh, pemandangan ini secantik namanya. Hamparan ini cukup membuat saya terbius sampai-sampai tak sadar dengan matahari yang perlahan surut dari atas gunung.

Pemandangan Gunung Nona dari Alam Indah

Bukit Cekong
Cekong merupakan tempat wisata yang lagi ngehits di Enrekang. Bukan hanya karena pemandangannya, wahana ekstrim yang membuat adrenalin meningkat juga menjadi daya tariknya. Bukit Cekong terletak di Desa Pasaran, kecamatan Anggeraja. Setiap akhir minggu, jikalau saya ada waktu, saya sendirian naik motor ke Cekong dan jalan kaki ke bukit Cekong untuk menikmati panorama tebing-tebing batu Cekong sekaligus pemandangan Gunung Nona disebelahnya.

Cekong sebenarnya adalah tempat perlombaan motor cross yang dipakai setiap tahunnya. Sejak tahun lalu, ada beberapa warga lokal yang mulai membuat usaha outbond dan flying fox, kemudian disusul ada ayunan ekstrim yang penahan tali webbingnya digantung di pohon diatasnya persis. Tidak perlu khawatir, karena tali webbing dikaitkan dan dipasangkan berganda ke pohon jadi bisa dinaiki dalam keadaan aman. Terdapat juga spot untuk berfoto dengan latar Tebing-Tebing Cekong. Terdapat papan besar yang disanggah dipohon sehingga bisa kita naiki (tentunya untuk safety dilengkapi dengan body harness)

Main Ayunan Ekstrim Bukit Cekong 

Anjungan Foto Cekong

Me and my friend!

Harga untuk menaiki wahana-wahana ini cukup terjangkau. Anda hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp. 15K-30K untuk setiap wahana. Bagi yang hanya ingin menikmati panorama Cekong saja, Anda bisa stand by di basecamp untuk menyeruput kopi racikan Enrekang dengan camilan ringan. Konon katanya Kopi Cekong ini terkenal bisa membuat melek satu hari satu malam. Saya sendiri tidak berani mencoba, karena lambung saya sensitif kopi.

Buttu Macca
Selain di Bukit Cekong, Ayunan Ekstrim Buttu Macca wajib dicoba untuk penggila permainan ekstrim. Saya mulai tertarik mencari ayunan ini karena salah satu teman sejawat saya sudah pergi kesini duluan (mupeng lihat fotonya, saya korban iklan). Akhirnya saya dengan salah satu teman saya mencoba mencari tempat tersebut. Berbekal modal GPS dari arah Puskesmas Anggeraja, belokan Buttu Macca ini terletak tidak jauh dari Resting (restoran yang berada dipinggir Gunung Nona). Dari arah Kec. Anggeraja, belokan tempat ini berada disebelah kiri, tiga ratus meter dari Resting. Terdapat spanduk kecil yang berada persis didepan belokan sehingga jalannya tidak terlewat.

 Spanduk pas dibelokan Buttu Macca

Memasuki belokan Buttu Macca, kita diharuskan parkir dilapangan lalu melanjutkan jalan dengan berjalan kaki menuju spot ayunan. Kami berjalan menyusuri lereng bukit dan kebun-kebun selama lima menit, dan Tadaa!! Sampailah kami di spot ayunan-ujung-jurang-buttu-macca. Waktu itu menunjukkan pukul tiga siang, matahari kala itu masih sangat terik-teriknya. Saya agak menyesal diri karena lupa bawa sunblock Banana Boat. Sampai disana, ternyata kami merupakan orang yang pertama yang tiba untuk mencoba ayunan hari itu. Baru dua warga yang datang untuk menyiapkan wahana ayunan, kami diminta menunggu. Untuk menjalankan ayunan, butuh tenaga banyak orang untuk menarik ayunan (sekitar 6-7 orang) sebelum kita dilepas ke depan. Sambil membunuh waktu, saya dan teman saya menyusuri bukit-bukit disebelah ayunan. Spot pemandangan bukit-bukit dan ujung tempat kayu ini sangat keren pas di capturing-moment. I have to show you guys!

 Whoaaaaaaa

No caption needed to describe how wonderful view in front of me!

Setelah ayunan dan orang-orang yang akan menarik ayunan siap, teman saya duluan yang mencoba ayunan. Ayunan Buttu Macca itu berbeda dengan yang ada di Bukit Cekong. Webbing dari sisi kanan dan kiri dililit pada pohon pinus ramping dan dihubungkan dengan karbiner pada full body harness peserta. Menakutkan? Tentu saja iya. Harga 15K versus nyawa. Akan tetapi, sejauh ini belum ada kasus orang jatuh atau kecelakaan saat mencoba ayunan. Mencoba atau tidak mencoba pilihan Anda. 

Saya mulai nervous. Kini giliran saya. Full body harness mulai dipasangkan. Tangan saya mulai berkeringat dan detak jantung meningkat. Sama dengan gugupnya saat saya terjun 10 meter dari cavingnya Goa Pindul atau rappeling di temboknya FK Unhas pas Dikdas TBM. Bedanya lebih parah, ayunannya diterjunin ke jurang. Pikir saya, kalau saya jatuh dan mati, semoga teman saya mau cari jenazah saya dan dikirimin ke Jakarta. Haduh, otak saya sudah acakadul saat itu.

Saya mulai berpijak pada tiang bambu yang telah disanggah tiang dan tangga.
“Pak, saya ngomong dulu siap meluncur, baru bapak hitung mundur yak!”
“Iya”, jawabnya cekikikan. Saya terlalu serius untuk menanggapi cekikikannya bapak.

Suara saya bergetar..

“SSSAAAYA GHEA ARIFAH SHABRINA, CALCANEUS 014 727 SIAP MELUNCURRR!!!” 

Bapaknya mulai menghitung mundur, “ 3….2…1….LEPAS!!!”
Tali webbing ayunan dilepas. Saya pun terlepas.


Saya kayak burung yang sayapnya patah tapi dipaksa terbang. Diafragma saya kegelian bak naik tornado, tapi dua kali lipatnya rasanya. Saya tutup mata kencang-kencang, takut-takut tekanan mata meningkat. 

Si Bapak bilang, “TERIAKKKK..” “ARGHHHH” “ARGHHHH” “ARGGGGGHHHHH”
Ini bukan erangan erotis, tapi erangan ketakutan. Ketakutan tingkat dewa. Aseli.

Saya mulai curi-curi buka mata. OMG, Subhanallah, pemandangan Gunung Nona benar-benar naujubillah indah luar biasa. Saya masih terlempar kesana-kemari, tapi sudah tidak pusing lagi. Pelan-pelan saya mencoba melepaskan pegangan saya dan melambaikan tangan saya keatas. Sekali lagi, Subhanallah. Ini baru keren, tapi tidak untuk dicoba dua kali. Saya masih sayang nyawa.

Fly-fly away!

Itulah seuprit perjalanan saya di Enrekang, mencuri-curi waktu saat tugas internsip. Saya beruntung karena Enrekang banyak tempat wisatanya, jadi banyak target pelarian saya kalau mumet di puskesmas. Ini baru seuprit tempat wisata di Enrekang, Tunggu Enrekang part 2nya ya.

Ciao!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar