Kamis, 29 Desember 2016

Travel Side Story : Mengunjungi Krakatau, Sisa Sejarah dari Letusan Gunung Terhebat

Melihat judul cerita saya diatas agak-agak lebay ya? Sebenarnya tidak juga. 
Krakatau memang membuat dunia berguncang di tahun 1883. Tepatnya 27 Agustus 1883, letusan yang diperkirakan dayanya 10.000 kali dari bom atom Hiroshima dan Nagasaki terjadi. Letusan dari gunung berapi ini masih menjadi letusan yang yang paling keras yang terjadi di Bumi. Secara rekor pun, Guinness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai bunyi yang paling hebat sepanjang sejarah. Tercatat kejadian ini memakan puluhan ribu korban jiwa dan sempat membuat langit dunia menjadi gelap akibat debu vulkanik yang dihasilkan. Saya pernah membaca buku tentang Krakatau, "Krakatoa : The Day the World Exploded" dan buku ini merupakan International Best Seller. Ini membuktikan bahwa kejadian historis ini cukup menarik perhatian dunia bahkan BBC pun sampai membuat film dokumenter tentang ini. Ok, Back to topic, akhirnya saya berkesempatan  datang kesini bersama rombongan travel tour @indahnesia untuk melihat lebih dekat Krakatau sekarang.

Ini kedua kalinya saya ngetrip sama travel tour, sebelumnya saya bersama @jongjavatrip pergi eksplor Jawa Timur (saya booking semua via www.triptrus.com). Dengan +indahnesia , saya janjian tengah malam di Pelabuhan Merak untuk bersiap-siap menyebrang Bakauheni. Awalnya agak insecure sih, karena ini trip rombongan dan saya sendirian, eh ternyata nggak. Nemu teman-teman yang ramah. Nggak nyangka aja, ternyata ada ketemu orang Toraja, anak Bekasi, maupun banyak orang-orang kesehatan juga. (dunia itu sempit ternyata!) 

Ini juga kedua kalinya saya menyebrang ke Bakauheni, setelah 2012 saya nyebrang dengan bus menuju Padang. Saya pertama kali tahu dikapal ada lesehan tempat tidur plus dikasih alas ya disitu (bayar Rp 10K). Karena agak mabok laut, saya dan teman memutuskan tidur untuk menghemat energi untuk perjalanan selanjutnya. Tidak terasa dua setengah jam telah berlalu, dan Voila! Sampailah kami di Bakauheni. Badan saya sudah lumayan enakan dan akhirnya bergegas menuju keluar. Dari Bakauheni, kami carter angkot menuju Dermaga Canti. Perjalanan kira-kira memakan satu jam. Dari dermaga Canti, kita menaiki kapal kayu. Kita duduk diatas atap kapal dan menuju ke Pulau Sebuku Kecil untuk sightseeing sebentar. Kurang lebih setengah jam, kami langsung ciao ke seberang, Pulau Sebuku Besar, untuk spot snorkeling pertama. 
Sebelum nyebur, jangan lupa ngoles banana boat spf 110 sebelum tubuh gosong.

Dimana ikan-ikannya? Mungkin mereka hilang..
Rombongan kepanasan diatas kapal. lanjut!
Kita diberi waktu kurang lebih satu jam untuk mencicipi bawah laut Sebuku Besar. Saya turun memakai kacamata snorkeling minus, jambret dari punya adik sendiri, pelampung dan sepatu katak (nyewa dari turnya 50k). kadang-kadang saya kurang pewe kalo snorkeling pakai sepatu katak. Pertama membuat saya tambah capek kecipak kecipuk dan mau nggak mau sering nginjek terumbu karang. Kelebihannya, menghindari resiko luka karena terumbu karang dan hewan kecil super nyebelin, si bulu babi. Dulu waktu saya snorkeling di Bira, Bulukumba, saya kena banyak bulu babi. Sakitnya naujubilah. 

Pulang dari snorkeling di Sebuku Besar, kami menuju homestay di Pulau Sebesi. Pulau Sebesi berada tak jauh dari Pulau Sebuku maupun Krakatau. Jarak pulau-pulau yang disinggahi dengan Krakatau saling berdekatan. Melihat penampakan Pulau Sebesi, mengingatkan saya dengan Pulau yang saya pernah datangi di Kepulauan Seribu, Pulau Untung Jawa. Ramai tapi sebenarnya sepi dan little dry. Disinilah letak homestay yang kami akan tempati selama satu malam. Kami pun dibagi kedalam kamar besar, satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Saya pun langsung bergegas mandi, makan siang, dan tidur-tidur ayam cantik dulu, sebelum kembali beraksi menikmati Pulau Umang-Umang yang letaknya pas diseberang Pulau Sebesi. 

Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Jadwal dari tur selanjutnya adalah menikmati sunset di Umang-Umang. saya dan teman-teman rombongan tur kembali ke dermaga menuju pulau ini, hanya memakan lima menit dengan kapal. Pulau ini kecil sekali, kita bisa mengelilingi pulau ini kurang lebih 15 menit dengan jalan kaki saking kecilnya. Ketika abang tour leader indahnesia mengarahkan kita untuk kedepan pulau. Wah ternyata, pemandangannya keren! Pantai dengan laut biru-bergradasi-hijau, pasirnya putih, ditambah terdapat batu-batu karang hitam dipinggir pantai. Pantai ini benar-benar mirip dengan Pantai Teluk Ijo, Pacitan. Mumpung lagi ditur dan banyak orang, akhirnya saya mengabadikan foto dan boomerang instagram. Biar kekinian. Asik!

Hey Umang-Umang!
Umang-Umang Next Top Model Traveler

 Setelah lama menunggu sampai jam 6 sore, ternyata sunset tak kunjung terlihat, cuaca terlihat sedikit mendung. Rombongan dan saya masih tetap asyik duduk-duduk di karang sambil mendengarkan lagu. (#sok syahdu).
Habis duduk-duduk meratapi nasib, lanjut selfie!
Keesokan harinya, kita diminta untuk bangun pagi. Jadwal hari ini adalah main coursenya perjalanan tur ini, Anak Krakatau. Kami diminta bangun dari jam 3, tapi apa daya, kami baru berangkat jam 5 pagi. Jadinya agak molor-molor dikit. Dari Sebesi, kami memulai perjalanan menuju Gunung Anak Krakatau, jarak yang jauh ini memakan satu setengah jam. Saya dan teman saya, memilih naik diatas atap kapal kayu untuk menikmati pemandangan laut dan pulau-pulau sekitar.  Ombak benar-benar luar biasa keras. Kapal kayu ini miring kanan dan kiri dengan masifnya. Saya pun mulanya berpegangan pada tali jangkar, karena kebetulan itu benda yang paling dekat. Kapal semakin melaju cepat, ombak pun melawan arah kapal, kapal kami makin bergoncang hebat. Anjrit! Teman saya satu per satu turun ke dalam kapal karena ombaknya dan juga angin yang super kencang. Ada juga peserta rombongan yang muntah-muntah, yang lainnya memilih tidur untuk mengurangi mabuk. Tiga puluh menit sebelum sampai, karena saya tak kuat juga dengan anginnya, akhirnya kalah dan masuk ke kapal. Pusing euy! 

Akhirnya kita sampai di Anak Krakatau. Yeay! Sesaat tiba, Tour leader kami mengarahkan ke depan papan perkenalan Anak Krakatau. Polisi hutan disana selanjutnya menjelaskan sedikit cerita tentang Krakatau. Setelah letusan besar yang terjadi pada tanggal 27 Agustus 1883, 60% tubuh Gunung Krakatau hancur dan membentuk lubang kaldera serta menyisakan tiga pulau kecil; Pulau Rakata, Sertung, dan Panjang. Kegiatan vulkanik Krakatau tidak sampai disitu, pada tahun 1927 muncul sebuah dinding kawah yang timbul dan tumbuh di permukaan laut. Dinding kawah ini membentuk pulau yang disebut Anak Krakatau. Tepat di hari ini, 29 Desember 2016, usia Anak Krakatau mencapai 90 tahun. Gunung Anak Krakatau terhitung masih aktif hingga saat ini.

Denger serba-serbi Krakatau dulu
Setelah selesai penjelasan, Tour Leader dan bapak pengarah jalan mulai menuju kawah anak Krakatau. Kami beriringan menyusuri hutan-hutan kecil. Medan mulai sedikit mulai menanjak ketika mulai menaiki kawah. Kami menginjak pasir-pasir hitam abu vulkanik dan memutar jalan mengelilingi kawah anak Krakatau agar medan tidak terlalu berat. Proses pendakian dipasir hitam kering ini mengingatkan saya dengan adegan film 5cm saat pendakian Gunung Semeru. Sepanjang menuju puncak (#lo kira AFI?), Anda akan bisa melihat Krakatau yang super eksotis. Meski tidak aktif lagi, Krakatau masih menyisakan sejarah bahwa dia adalah Gunung yang sempat menggemparkan dunia dengan letusannya. Bahkan membuat langit Asia dan Eropa jadi suram karena abu vulkanik yang dihasilkannya. Ah, terlalu sayang jika kita tidak capturing moment disini!
5 cm versi Ghea
I hug you, Krakatoa!

Touchdown Anak Krakatau!

Boomerang act!

Setelah dari anak Krakatau, kami balik kembali ke depan pulau, dan menghabiskan makan pagi didepan pantai. Agenda selepas ini, snorkeling ke Pulau Lagoon Cabe dan terakhir, kembali ke homestay.

Untuk spot snorkeling, saya merasa kurang bagus sih. Masih lebih keren spot Pulau Menjangan Bali dan daerah Bira, Bulukumba. Menurut saya, terumbu karang dan hewan lautnya kurang variatif. Untuk Krakatau, kerenlah. Saya memang dari awal keponya sama Krakatau, menarik untuk didatangi karena nilai historisnya. Temen-temen rombongan tournya juga baik dan asik-asik. Overall, saya puas ikut perjalanan kali ini. Untuk temen-temen yang tertarik eksplor Anak Krakatau, Pahawang, Teluk Kiluan, lebih baik ikut travel tour saja, karena lebih affordable dan krik-krik nggak sendirian (sekalian bisa cuci pikiran biar nggak stress dan cuci mata liat daun muda #eh). 

So, see you on my next story!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar